Sunday, May 8, 2016


(Sang Pendiri Tarekat Sammaniyah & Penjaga Makam Rasulullah Saw.)
Nama beliau adalah Ghauts az-Zaman al-Waliy Quthb al-Akwan asy-Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman al-Madani keturunan Sayyidina Hasan bin Sayyidina Ali dengan Sayyidah Fatimah az-Zahra binti Sayyidina Rasulullah Saw
Beliau adalah ulama besar dan wali agung berdarah Ahlul Bait Nabi beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dengan Imam Asy’ari dalam bidang teologi atau aqidah, dan Imam asy-Syafi’i madzab fiqih furu’ ibadatnya, dan Imam Junaid al-Baghdadi dalam tasawufnya.
Beliau Ra. tinggal di Madinah menempati rumah yang pernah ditinggali Khalifah pertama, yakni Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq Ra. (seorang Shiddiq yang paling agung yang tiada bandingannya, kecuali para Anbiya wal Mursalin).
Guru mursyid beliau diantaranya adalah Sayyidina Syekh Musthafa Bakri, seorang wali agung dari Syiria, keturunan Sayyidina Abu Bakar Shiddiq Ra. dari pihak ayah, sedangkan dari pihak ibu keturunan Sayyidina Husein Sibthi Rasulullah Saw.
Pangkat kewalian beliau adalah seorang Pamungkas para wali, yakni Ghauts Zaman, dan wali Quthb al-Akwan, yakni kewalian yang hanya bisa dicapai oleh para sadah yang dalam tiap periode 200 tahun sekali. Dan beliau adalah Khalifah Rasulullah pada zamannya.
Beliau banyak memiliki karomah yang tidak bisa dihitung jumlahnya, bahkan sampai saat inipun karamah itu terus ada. Karamah agung beliau adalah pangkat kewaliannya yang begitu agung. Beliau mendapat haq memberi syafaat 70.000 umat manusia masuk syurga tanpa hisab.
Diantara murid-murid beliau dari Indonesia yaitu:
1.      Quthb az-Zaman Syekh muhammad Arsyad al-Banjari
2.      Quthb al-Maktum Syekh Abul Abbas Ahmad at-Tijani (pendiri tarekat Tijani)
3.      Al-Quthb Syekh Abdussamad al-Palimbani
4.      Al-Quthb Syekh Abdul Wahab Bugis (menantu Syekh Arsyad al-Banjari)
5.      Al-Qutb Syekh Abdurrahman al-Batawi (kakek Mufti betawi dari pihak ibu Habib Utsman Betawi)
6.      Al-Quthb Syekh Dawud al-Fathani, dan lain-lain.
Dan diantara keagungan dan kemuliaan beliau yang amat banyak diantaranya adalah; semua murid beliau yang jumlahnya ribuan menempati maqam Quthb. Beliau menempati kemuliaan karena beliau berada pada jalan Rasulullah Saw. dan para sahabatnya, yakni Ahlussunnah wal Jama’ah.
Demikian lah kesuksesan Syekh Samman dalam mendidik ruhani murid-muridnya sehingga mereka yang berjumlah ribuan menempati maqam Quthb, apatah lagi Rasulullah Saw. dengan para murid-muridnya yakni para sahabat, tentu maqam kewaliannya sangat agung, karena mereka mendapat keistimewaan menyertai kekasihNya (Muhammad Saw.), dan apa-apa yang menjadi Nubuwat Rasulullah Saw. dalam kitab-kitab terdahulu, maka pasti menceritakan dan memuji para Qudus agung yang menyertai kekasihNya, yakni para sahabat Rasulullah Saw.
Al-Quthb al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi berkata: “Serendah-rendahnya martabat sahabat maka tidak akan bisa dicapai walau oleh 70 Imam Junaid al-Baghdadi”. Padahal Imam Junaid hidup pada zaman salaf dan menempati Sulthon al-Auliya pada zamannya.
Karena para sahabat ini adalah para wali agung, maka para ahli tasawwuf (Aswaja) sangat sopan dengan mereka, tidak menceritakan mereka kecuali kebaikan. Sehingga wajib hukumnya berprasangka baik dengan para Auliya. Lebih-lebih lagi para sahabat yang notabene adalah hasil didikan langsung Rasulullah Saw. yang menempati Shiddiq dalam kewalian.
Maka dari itu, ummat Islam Aswaja tidak akan membicarakan panjang lebar tentang pertikaian antar sahabat, baik itu antara Sayyidah Aisyah dengan Sayyidina Ali Kw, pada perang Jamal, maupun antara Sayyidina Ali Kw. pada satu pihak dengan Sayyidina Muawiyah Ra. pada pihak lain.
Kita kaum Aswaja tidak akan mengotori mulut kita dengan umpatan dan negatif thinking kepada mereka. Bahkan Khalifah Ali Kw. mengatakan seterunya saat itu bahwa antara beliau dengan Sayyidina Muawiyah adalah saudara seiman dan satu kalimat, hanya saja khilaf dalam penyelesaian pembunuhan Khalifah Utsman Ra. Bahkan beliau Kw. menyolatkan semua korban perang baik yang di pihak beliau maupun pihak Gubernur Damaskus saat itu.


Syekh Samman Al-Madani Al-Hasani (Pendiri Tarekat Sammaniyah)

Kemunculan Tarekat Sammaniyah bermula dari kegiatan sang tokoh pendirinya, yaitu Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Sammani al-Hasani ai-Madani al-Qadiri al-Quraisyi. Ia adalah seorang fakih, ahli hadits, dan sejarawan pada masanya. Dilahirkan di Kota Madinah pada tahun 1132 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 1718 Masehi. Keluarganya berasal dari suku Quraisy.
Semula, ia belajar Tarekat Khalwatiyyah di Damaskus. Lama-kelamaan, ia mulai membuka pengajian yang berisi teknik dzikir, wirid, dan ajaran tasawuf lainnya. Ia menyusun cara pendekatan diri dengan Allah Swt. yang akhirnya disebut sebagai Tarekat Sammaniyah. Sehingga, ada yang mengatakan bahwa Tarekat Sammaniyah adalah cabang dari Khalwatiyyah.
Demi memperoleh ilmu pengetahuan, ia rela menghabiskan usianya dengan melakukan berbagai perjalanan. Beberapa negeri yang pernah ia singgahi untuk menimba ilmu diantaranya adalah Iran, Syam, Hijaz, dan Transoxiana (wilayah Asia Tengah saat ini). Diantara karya-karya tulis beliau adalah; Mujamu al-Masyayikh, Tazyil at-Tarikh Baghdad, dan Tarikh Marv.
Kemuliaan Syekh Muhammad Samman dikenal sebagai tokoh tarekat yang memiliki banyak karamah. Baik dari kitab Manaqib Syaikh al-Waliy asy-Syahir Muhammad Samman maupun Hikayat Syekh Muhammad Samman, keduanya mengungkapkan sosok Syekh Samman. Sebagaimana guru-guru besar tasawuf, Syekh Muhammad Samman terkenal akan kesalehan, kezuhudan, dan kekeramatannya. Konon, ia memiliki karamah yang sangat luar biasa.
“Ketika kaki diikat sewaktu di penjara, aku melihat Syekh Muhammad Samman berdiri di depanku dan marah. Ketika kupandang wajahnya, tersungkurlah aku dan pingsan. Setelah siuman, kulihat rantai yang melilitku telah terputus," kata Abdullah al-Basri. Padahal, kata seorang muridnya, ketika itu Syekh Samman berada di kediamannya sendiri.
Adapun perihal awal kegiatan Syekh Muhammad Samman dalam tarekat dan hakikat, menurut Kitab Manaqib, diperolehnya sejak bertemu dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
Suatu ketika, Syekh Muhammad Samman berkhalwat (menyendiri) di suatu tempat dengan memakai pakaian yang indah-indah. Pada waktu itu datanglah Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang membawakan pakaian jubah putih dan berkata: "Ini pakaian yang cocok untukmu." Ia kemudian memerintahkan Syekh Muhammad Samman agar melepas pakaiannya dan mengenakan  jubah putih yang dibawanya itu.
Konon, Syekh Muhammad Samman menutup-nutupi ilmunya sampai datanglah perintah dari Rasulullah Saw. untuk menyebarkannya kepada penduduk Kota Madinah.


Wasiat Syekh Samman Al-Madani Al-Hasani (Penjaga Makam Rasulullah Saw.)

Diantara wasiat yang diberikan Syekh Samman al-Madani adalah, berkata al-Imam al-Quthb al-Ghauts az-Zaman al-Waliy al-Quthb al-Akwan asy-Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman al-Madani:
•         "Tidaklah aku diangkat Allah Swt. menjadi al-Waly al-Quthb al-Ghauts dan Quthb al-Akwan melainkan aku selalu rutin membaca doa; Allahummaghfir li-ummati sayyidina  Muhammad. Allahummarham li-ummati sayyidinina Muhammad. Allahummastur li-ummati sayyidina Muhammad. Allahummajbur  li-ummati sayyidina Muhammad Saw. 4X berturut-turut setelah selesai sholat Shubuh sebelum berkata-kata urusan dunia  dan dia istiqamah membacanya maka ia menempati martabat fadhilah Quthub.”
Maksud beliau memberikan amalan ini ialah agar kita selalu bersatu sesama ummat islam dan sebagai ummatnya Rasulullah Saw. janganlah ada iri dengki dan buruk sangka terhadap sesama sekalipun seseorang itu kelihatannya hina. Jadi membaca doa ini setelah sholat Shubuh dengan niatan mudah-mudahan semua ummat Rasulullah Saw. diampuni Allah Swt. Atas segala dosa, dimudahkan Allah Swt. tuk mengamalkannya dan dengan harapan semoga hati kita dibersihkan dari segala penyakit hati seperti riya, ujub, takabbur, sombong, iri, dengki, hasud, berperasangka buruk dan sifat-sifat buruk lainnya.
•    “Barangsiapa mengambil thariqah kepadaku dan mengamalkannya niscaya pasti ia akan mendapatkan rasa majdzub di dalam dunia (diambil oleh Allah Swt. aqalnya yang Basyariyyah diganti dengan aqal yang bersifat Rabbaniyah) yakni diambil oleh Allah akan rasa punya wujud dan sifat dan af’al diganti dengan rasa ‘adam mahdhah adam semata” yakni tiada punya wujud, sifat dan af’al melainkan hanya Allah Swt. yang punya wujud hakiki, minimal di saat sakaratul maut.”
•    “Perkataan aku ini seperti perkataan Sayyidi Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Barangsiapa yang menyerukan aku “Ya Samman” 3 kali ketika mendapat kesusahan, niscaya aku akan datang menolongnya.”
Syekh Samman al-Madani meninggal dunia pada hari Rabu 2 Dzulhijjah tahun 1189 H, dan dimakamkan di pemakaman Baqi’ bersandingan dengan maqam  para Istri Rasulullah. Para ualam mengatakan bahwa barangsiapa yang melazimkan membaca Manaqib Sayyidi Syekh Samman (Ratib Samman) berjamaah dengan orang banyak dan membaca al-Qur’an serta bertahlil kemudian bersedekah semampunya dan pahalanya dihadiahkan kepada Sayyidi Syekh Samman, niscaya ia akan dimudahkan rizqinya oleh Allah Swt.

Disarikan dari berbagai sumber.

Sya’roni as-Samfuriy, Indramayu 09 Muharram 1434 H
http://biografiulamahabaib.blogspot.co.id/2012/11/manaqib-syekh-samman-al-madani-al-hasani.html

SYEIKH ABDUS SAMAD AL-FALIMBANI
Syeikh Abdus Shamad Al-Falimbani ulama sufi penegak jihad
Koleksi tulisan Allahyarham WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH
Bahagian (1)

Sejarah mengenai Syeikh Abdus Shamad ini terlalu banyak panjang untuk dibincangkan, sama ada mengenai asal-usul beliau, pendidikan, karya-karya, keturunan dan sebagainya.
Oleh itu, artikel ini merupakan bahagian pertama yang hanya meliputi pengenalan awal mengenai nama ayah dan pendidikan beliau sahaja. Selebihnya akan dibincangkan pada bahagian selanjutnya.
Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, pertama kali penulis perkenalkan dalam majalah Dian bilangan 100, Ogos 1977. Sumber awal yang dibicarakan sebahagian besar adalah berdasarkan cerita yang mutawatir yang didengar di Kepulauan Riau, Patani dan Kalimantan Barat. Yang bersumberkan bahan bertulis hanyalah berdasarkan berbagai-bagai edisi cetakan karyanya, maupun manuskrip simpanan penulis yang dipusakai dari Syeikh Ahmad al-Fathani.
Bahan itulah sebagai dasar utama penulis melakukan penyelidikan sehingga tulisan penulis dimuat dalam majalah Dian itu.
Terdapat banyak kisah yang ditulis oleh sarjana tempatan dan luar negeri tentang ulama yang berasal dari Palembang, Sumatera ini. Antaranya artikel penulis dalam majalah Dian tersebut, Al-Tarikh Salasilah Negeri Kedah karya Muhammad Hassan bin Dato’ Kerani Muhammad Arsyad (Dewan Bahasa dan Pustaka,1968), Syamsuddin bin Siddiq yang membuat tesis tentang Hidayatus Salikin, dan Dr. Mahmud Saedon bin Awang Othman dalam kertas kerjanya untuk Seminar Sufi Peringkat Kebangsaan.
Malahan penulis sendiri menerbitkan sebuah buku kecil berjudul Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani,Shufi Syahid fi Sabilillah (1983).Setelah itu menyusul pula buku Mengenal Allah Suatu Studi Mengenal Ajaran Tasawuf Syeikh Abdus Shamad al-Palimbani oleh Dr.M.Chatib Quzwan(1985). Dan berbagai-bagai buku lain, terakhir sekali buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII oleh Dr. Azyumardi Azra, tahun 1994.
Bagi penulis keseluruhan buku mengenai Syeikh Abdus Shamad yang diproses oleh para sarjana itu tidak banyak diperoleh bahan baru, kerana apa yang mereka bicarakan hanyalah berdasarkan tulisan yang telah ada dan tidak menemukan karya-karya Syeikh Abdus Shamad yang belum dibicarakan selama ini.
Menurut penelitian penulis, ada yang dibicarakan juga banyak bersimpangsiur dan terdapat banyak kekeliruan. Oleh itu penulis muncul kembali dengan buku Syeikh Abdus Shamad Palembang Ulama Shufi Dan Jihad Dunia Melayu terbitan pertama Khazanah Fathaniyah, Kuala Lumpur, 1996. Dalam buku tersebut di beberapa halaman adalah sanggahan dengan tujuan untuk perbandingan, demi lebih meluruskan jalan sejarah yang sebenarnya.
Mengenali nama ayahnya
Terdapat banyak percanggahan berkenaan nama ayah kepada ulama ini. Pada penyelidikan awal, penulis menemui nama orang tua Syeikh Abdus Shamad Falimbani itu adalah Syeikh Abdul Jalil al-Mahdani dan Faqih Husein al-Falimbani. Maka dalam penyelidikan selanjutnya, penulis jumpai pula nama ayahnya selain Syeikh Abdul Jalil al-Mahdani dan Faqih Husein al-Falimbani itu. Nama-nama lain itu ialah: Abdur Rahman al-Jawi al-Falimbani. Maklumat ini pertama sekali penulis jumpai hanya pada Hidayatus Salikin terbitan Al-Ahmadiah Press, Singapura, tanpa menyebut tahun cetakan, berdasarkan satu naskhah yang dijumpai di Banjar.
Pada cetakan itu pentashhihnya juga disebutkan ialah Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani sebagaimana cetakan-cetakan lainnya. Sedangkan Hidayatus Salikin terbitan lainnya tidak menyebut nama orang tua Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani itu. Hal ini bersamaan pula dengan manuskrip salin semula judul Zahratul Murid yang terdapat di Pusat Islam Malaysia. Manuskrip Zahratul Murid yang ada dalam simpanan penulis juga menyebut nama orang tuanya Abdur Rahman al-Jawi al-Falimbani.
Tetapi dalam karya beliau judul yang sama, salinan Hj. Muhammad Husein bin Abdul Latif (Tok Kelaba al-Fathani) menyebut bahawa nama orang tua Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani ialah Syeikh Abdullah al-Jawi al-Falimbani, tidak Abdur Rahman al-Falimbani al-Jawi dan tidak pula dua nama yang terdahulu (Faqih Husein al-Falimbani dan Syeikh Abdul Jalil al-Mahdani).
Manuskrip Zahratul Murid yang tersimpan di Muzium Nasional Jakarta, nampaknya serupa dengan salinan Tok Kelaba al-Fathani, iaitu orang tuanya bernama Abdullah al-Jawi al-Falimbani.
Nama ayah Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani dinyatakan ialah Abdur Rahman al-Jawi al-Falimbani, juga tersebut pada cover cetakan kitab itu oleh Matba’ah at-Taraqqil Majidiyah al-‘Itsmaniyah, Mekah, tahun 1331 H/1912 M, ditashhih oleh Syeikh Idris bin Husein al-Kalantani, iaitu murid kepercayaan Syeikh Ahmad al-Fathani. Dipercayai ada cetakan yang lebih awal dari cetakan ini yang diusahakan oleh Syeikh Ahmad al-Fathani yang dicetak oleh Matba’ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah dalam tahun 1300 H/1882 M.
Juga nama ayahnya Abdur Rahman al-Jawi al-Falimbani tersebut pada mukadimah risalah Ilmu Tasauf, manuskrip koleksi Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia. Nama Abdur Rahman al-Jawi al-Falimbani juga disebut pada banyak halaman dalam karya Syeikh Muhammad Yasin bin ‘Isa al-Fadani (Padang) berjudul Al-‘Iqdul Farid min Jawahiril Asanid dan Balughul Amani.
Nama ayah Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani adalah Syeikh Abdur Rahman al-Jawi al-Falimbani, dari sumber Melayu sendiri selain sumber-sumber yang penulis sebutkan di atas. Juga disebut oleh salah seorang murid beliau bernama Haji Mahmud bin Muhammad Yusuf Terengganu, dalam salah sebuah salinan karya Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani. Tokoh tersebut sangat banyak membuat salinan pelbagai judul manuskrip.
Berbeza
Susur galur keturunan Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani sampai saat ini baru dijumpai dua sumber yang agak lengkap walaupun antara kedua- duanya sangat berbeza. Kedua-dua sumber itu ialah: Al-Tarikh Salasilah Negeri Kedah, yang mengemukakan bahawa Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani bin Syeikh Abdul Jalil bin Syeikh 'Abdul Wahhab bin Syeikh Ahmad al-Mahdani.
Dalam Bulughul Maram karya Syeikh Muhammad Yasin Padang pula dijumpai bahawa Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani bin Abdur Rahman bin Abdullah bin Ahmad al-Falimbani. Namun pada beberapa halaman lain oleh pengarang dalam buku yang sama dinyatakan: Syeikh Abdus Shamad bin Abdur Rahman bin Abdul Jalil al-Falimbani. Penulis tidak dapat mengesan dengan pasti apa sebab persoalan ini boleh berlaku, nama ayahnya berbeda-beda dan nama-nama ayah ke ayah pula terjadi demikian seperti yang telah disalinkan di atas.
Nama yang digunakan di makam yang terletak di Tanjung Pauh, Jitra, Daerah Kubang Pasu, Kedah ialah Syeikh Abdul Jalil, bukan nama yang lainnya. Sungguh pun di makamnya memakai nama Syeikh Abdul Jalil, namun jika diperhatikan dengan perbandingan ternyata jumlah maklumat yang menyebut nama ayah beliau Abdur Rahman al-Jawi al-Falimbani lebih banyak dari nama-nama lain seperti yang disebutkan di atas.
Selama ini semua penulis hanya mengenal bahawa di hujung nama Syeikh Abdus Shamad biasa ditambah dengan perkataan ‘al-Falimbani’, iaitu yang dinisbahkan/dibangsakan bahawa beliau berasal dari Palembang. Akan tetapi dalam sebuah manuskrip al-‘Urwatul Wutsqa karya beliau, ternyata beliau menyebut di hujung namanya dengan ‘al-Fathani’.
Pada beberapa halaman al-‘Iqdul Farid, Syeikh Yasin Padang menyebut di hujung nama beliau dengan ‘al-Asyi asy-Syahir bil Falimbani’, yang maksudnya bahawa dinisbahkan/dibangsakan berasal dari Aceh yang masyhur berasal dari Palembang.
Pendidikan
Syeikh Abdus Shamad mendapat pendidikan asas dari ayahnya sendiri, Syeikh Abdul Jalil, di Kedah. Kemudian Syeikh Abdul Jalil mengantar semua anaknya ke pondok di negeri Patani. Zaman itu memang di Patani lah tempat menempa ilmu-ilmu keislaman sistem pondok secara yang lebih mendalam lagi.
Mungkin Abdus Shamad dan saudara-saudaranya Wan Abdullah dan Wan Abdul Qadir telah memasuki pondok-pondok yang terkenal, antaranya ialah Pondok Bendang Gucil di Kerisik, atau Pondok Kuala Bekah atau Pondok Semala yang semuanya terletak di Patani.
Di antara para gurunya di Patani, yang dapat diketahui dengan jelas hanyalah Syeikh Abdur Rahman bin Abdul Mubin Pauh Bok. Demikianlah yang diceritakan oleh beberapa orang tokoh terkemuka Kampung Pauh Bok itu (1989), serta sedikit catatan dalam salah satu manuskrip terjemahan Al-‘Urwatul Wutsqa, versi Syeikh Abdus Shamad bin Qunbul al-Fathani yang ada dalam simpanan penulis. Kepada Syeikh Abdur Rahman Pauh Bok itulah sehingga membolehkan pelajaran Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani dilanjutkan ke Mekah dan Madinah. Walau bagaimana pun mengenai Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani belajar kepada Syeikh Abdur Rahman Pauh Bok al-Fathani itu belum pernah ditulis oleh siapa pun, namun sumber asli didengar di Kampung Pauh Bok sendiri.
Sistem pengajian pondok di Patani pada zaman itu sangat terikat dengan hafalan matan ilmu-ilmu Arabiyah yang terkenal dengan ‘llmu Alat Dua Belas’. Dalam bidang syariat Islam dimulai dengan matan-matan fiqh menurut Mazhab Imam Syafie. Di bidang tauhid dimulai dengan menghafal matan-matan ilmu kalam/usuluddin menurut faham Ahlus Sunah wal Jamaah yang bersumber dari Imam Syeikh Abul Hasan al-Asy’ari dan Syeikh Abu Mansur al-Maturidi.
Setelah Syeikh Abdus Shamad banyak hafal matan lalu dilanjutkan pula dengan penerapan pengertian yang lebih mendalam lagi. Sewaktu masih di Patani lagi, Syeikh Abdus Shamad telah dipandang alim, kerana beliau adalah sebagai kepala thalaah (tutor), menurut istilah pengajian pondok. Namun ayahnya berusaha mengantar anak-anaknya melanjutkan pelajarannya ke Mekah. Memang merupakan satu tradisi pada zaman itu walau bagaimana banyak ilmu pengetahuan seseorang belumlah di pandang memadai, jika tak sempat mengambil barakah di Mekah dan Madinah kepada para ulama yang dipandang Wali Allah di tempat pertama lahirnya agama Islam itu.
Keturunan
Mengenai pengajiannya di Mekah dan Madinah sumber yang paling pertama diketahui ialah tulisan Syeikh Abdur Rahman Shiddiq, keturunan Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari, ditulisnya dalam Syajaratul Arsyadiyah. Menurut beliau, bahawa Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, belajar di Mekah sekitar 30 tahun dan di Madinah 5 tahun bersama kawan-kawannya. Mereka ialah Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari penyusun kitab Sabilul Muhtadin yang terkenal, Syeikh Abdul Wahab Pang-kajene (Sidenreng Daeng Bunga Wardiah) Bugis, Syeikh Abdur Rahman al-Masri, Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari, Syeikh Muhammad Ali Aceh, Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan ramai lagi.
Sahabat-sahabat Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani sewaktu melanjutkan pelajaran di Mekah selain yang tersebut itu sangat ramai, di antara nama mereka telah penulis sebut dalam buku Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari Pengarang Sabilal Muhtadin. Mengenai para gurunya di Mekah, selain yang diketahui umum, dalam sebuah manuskrip disebutkan bahawa Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani pernah belajar daripada Syeikh Muhammad Zain bin Faqih Jalaluddin Aceh di Mekah. Para ulama besar yang pernah mendidik Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani selama berada di Mekah dan Madinah selain yang tersebut dapat dirujuk kepada buku penulis Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari ... tersebut di atas, lihat hlm. 14-15, sanad-sanadnya dari hlm. 16 sampai 27. Namun masih ada beberapa guru Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani yang berasal dari Palembang dan sanad beberapa ilmu yang tidak tersebut dalam buku penulis itu. Hal ini kerana ada beberapa ilmu yang mereka tidak belajar secara bersama-sama.
Menurut Syeikh Yasin Padang dalam beberapa bukunya yang telah disebutkan, bahawa hampir semua ilmu nampaknya Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani menerima dari al-Mu’ammar Aqib bin Hasanuddin bin Ja’far al-Falimbani. Ulama yang berasal dari Palembang ini tinggal di Madinah. Beliau berguru dengan ramai ulama, namun di antara gurunya termasuklah ayah saudaranya bernama Thaiyib bin Ja'far al-Falimbani. Thaiyib bin Ja’far belajar dengan ayahnya Muhammad bin Badruddin al-Falimbani.
Tulisan Syeikh Yasin Padang yang mengatakan Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani belajar dengan Syeikh Muhammad Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani itu bertentangan dengan tulisan Syeikh Muhammad Azhari ibnu Abdullah al-Jawi al-Falimbani. Kenyataan ulama ini ialah, “... telah mengambil talqin zikir ini oleh faqir Muhammad Azhari ibnu Abdillah al-Falimbani. [Ia] mengambil daripada asy-Syeikh Abdullah bin Ma’ruf al-Falimbani, [Ia] mengambil daripada asy-Syeikh Muhammad Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani, [Ia] mengambil daripda asy-Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani ...”.
Jika kita berpegang kepada Syeikh Yasin Padang bererti Syeikh Abdus Shamad adalah murid Syeikh Muhammad Aqib. Sebaliknya jika kita berpegang kepada Syeikh Muhammad Azhari bin Abdullah bin Muhammad Asyiquddin bin Safiyuddin Abdullah al-Alawi al-Husaini al-Falimbani, bererti Syeikh Abdus Shamad adalah guru kepada Syeikh Muhammad Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani.
Bersambung…
Mengenal Syeikh Abd al-Samad al-Jawi al-Palimbani dan Ajaran Suluknya (Bagian Pertama)
A+ A-
Print Email

Membaca sejarah orang-orang shaleh yang sudah mendahului kita sangatlah dianjurkan apalagi ulama-ulama    shaleh yang terkenal sebagai  penegak  kalimah Laa ILaha ILallah  agar  dapat  diambil hikmahnya guna meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Di dalam kitab Bughyat al_Mustarsyidin, hlm. 97:

وَقَدْ وَرَدَ فِي اْلَاثَرِ عَنْ سَيِِّدِ الْبَشَرِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قاَلَ :مَنْ وَرَّخَ مُؤْمِناَ فَكَأَنمَّاَ اَحْياَهُ وَمَنْ قَرَأَ تاَرِيْخَهُ فَكَأَنمَّاَ زَارَهُ فَقَدْ اسْتًوْجَبَ رِضْوَانَ اللهِ فيِ حُزُوْرِ الْجَنَّةِ.

Tersebut dalam surat atsar: Rasulullah S.A.W. pernah bersabda: Siapa membuat/membaca sejarah orang mukmin ( yang sholeh dan sudah meninggal ) sama saja menghidupkan kembali; siapa memmbacakan sejarahnya seolah-olah ia sedang  mengunjunginya, Allah akan memberikan surga.
Kesempatan kali ini riwayat yang ditulis adalah mengenai salah seorang ulama nusantara  yakni Syeikh Abd al-Samad al-Jawi al-Palimbani.

RIWAYAT HIDUP AL-PALIMBANI

Abd al-Samad al-Jawi al-Palimbani adalah orang Indonesia yang  berasal dari Palembang. Ia adalah putra Syekh Abd Jalil bin Syekh Abd al-Wahab bin Syekh Ahmad al-Madani dari Yaman yang diangkat
menjadi mufti negeri Kedah, dengan istrinya Raden Ranti dari Palembang. Sebelum ia kawin di Palembang, Syekh Abd Jalil telah kawin di Kedah, dan dari perkawinan tersebut ia mendapat dua orang putra yaitu Wan Abd al-Qadir dan Wan Abdullah.  Tetapi Abd al-Samad lebih tua dari kedua saudara seayahnya, karena keduanya lahir setelah Syekh Abd al-Jalil  pulang tiga tahun setelah kepergiannya ke Palembang, di mana ia kawin lagi dan mendapat seorang  putra yang bernama Abd Samad. Selanjutnya Abd Samad dan saudaranya Wan Abd al-Qadir diantar ke Mekkah, sehingga akhirnya ia dikenal dengan sebutan Syekh Abd Samad al-Palimbani, dan saudaranya tersebut diangkat menjadi mufti negeri Kedah, menggantikan ayahnya. (Chatib Quzwain, 9)

Penobatan Sultan Kedah terjadi pada tahun 1112 H/1700 M. Tidak lama kemudian, Syekh Abdul Jalil diangkat menjadi mufti dan dikawinkan dengan Wan Zainab, putri  Dato Sri Maharaja Dewa. Tidak berapa lama setelah perkawinan itu mereka melahirkan anak, Syekh Abd al-Jalil dijemput oleh utusan dari Palembang untuk berkunjung ke sana melepaskan rindu kepada murid-muridnya yang sudah sangat lama ditinggalkan. 
Berdasarkan keterangan ini, al-Palimbani lahir di Palembang sekitar tiga atau empat tahun setelah 1112 H/1700 M. Menurut catatan yang terdapat dalam kitab Sair al-Salikin, kitab tersebut mulai ditulisnya pada tahun 1193 H/1779 M. (Abd Samad Al-Palimbani, TT : 3). 

Menurut Yusuf Halidi, al-Palimbani menuntut ilmu di Mekkah bersama-sama dengan Muhammad Arsyad al-Banjari, Abdul Wahab Bugis dari Sulawesi Selatan dan Abdul Rahman Masri dari Jakarta, “empat serangkai” yang kemudian sama-sama belajar  thariqat di Madinah kepada Syeikh Muhammad  al-Samman, dan akhirnya mereka bersama-sama pula pulang ke daerah mereka masing-masing di Indonesia. (Yusuf Halidi, 1980 : 33) 


Tasawuf merupakan bidang spesialisasi Al-Palimbani, sehingga dalam Sair al-Salikin, ia menyebut lebih dari seratus kitab tasawuf serta mengklasifikasinya menurut isi masing-masing kitab tersebut. Ada yang dianggapnya boleh dibaca oleh orang yang masih berada di tingkat permulaan (mubtadi), ada yang merupakan bacaan orang yang sudah mencapai tingkat pertengahan (mutawassith) dan ada pula yang hanya boleh dibaca oleh orang yang sudah mencapai tingkat penghabisan (muntahi) saja. 

Al-Palimbani mengambil Tarekat al-Khalwatiyah melalui Syekh Muhammad al-Samman di Madinah,  yang selanjutnya dikenal sebagai pendiri Tarekat Sammaniyah. Dalam tulisan-tulisannya, khususnya dalam Hidayat al-Salikin dan Sair al-Salikin, ia selalu menyebut dirinya sebagai murid dari Syekh Muhammad al-Samman al-Madani.  Mengenai karya tulis Al-Palimbani, ada beberapa kitab seperti yang penulis kutip dari Chatib Quzwain diantaranya
(1)  Hidayat alSalikin,
(2) Sair al-Salikin,  yang secara berurutan merupakan terjemahan dari  Bidayat al-Hidayat  dan  Lubab Ihya’ Ulum al-Din  – Karangan AlGhazali,
(3) Zahrat al-Murid fi Bayan Kalimat al-Tauhid,
(4) Nasihat alMuslimin wa Tazdkirat al-Mu’minin fi Fadha’il al-Jihad fi Sabilillah, (6), Al-‘Urwat al-Wutqa wa Silsilat Uli al-Ittiqa,
(7) Ratib Abd al-Samad alPalimbani (Chatib Quzwain, 22 – 30).

Pokok-pokok Ajaran Suluk al-Palimbani

a. Taubat

Al-Palimbani memandang taubat sebagai langkah pertama yang harus diambil oleh setiap orang yang ingin menempuh jalan ini. Menurut dia  taubat  merupakan jalan bagi orang yang  salik yang menyampaikannya untuk berbuat ibadah yang sempurna yang menyampaikan kepada  makrifah  Allah. (Abd Samad Al-Palimbani, TT : 3) di samping itu, ia juga menerangkan tentang taubat  yakni “Suatu makna yang bersusun daripada tiga perkara :  ilmu, hal, dan fi’il, yakni perbuatan”. 
Menurut dia, taubat adalah suatu kewajiban agama yang harus dilakukan oleh setiap orang yang melakukan perbuatan dosa.  Untuk mendapat kebulatan tekad dalam bertaubat itu, harus dilakukan tiga hal :
- Pertama, “bahwa maksiat yang membawa kepada dosa sangat keji dan sangat jahat kepada Allah dan kepada manusia”. - Kedua, harus diingat “betapa beratnya siksaan  Allah SWT dan Allah sangat murka atas orang yang berbuat maksiat”. - Ketiga, harus diingat kelemahan diri untuk “menanggung siksa yang sangat sakit di akhirat” nanti. (Al-Palimbani, Jilid IV : 7 – 8).  Menurut Al-Palimbani, taubat itu terbagi dalam tiga tingkatan :
- Pertama, taubat orang  awam;
- Kedua, taubat orang  khawash;
- Ketiga, taubat orang  khawash al khawash.
Taubat dari “maksiat yang zahir, merupakan taubat tingkatan pertama seperti berzina, membunuh, merampas, mencuri dan sebagainya;
Taubat yang kedua yakni orang  khawash taubat dari “maksiat batin” seperti ujub, ria, takabur, hasad  dan sebagainya;
sedangkan orang  khawash al khawash, taubat dari segala yang terlintas di dalam hatinya yang lain dari pada Allah SWT, karena ibadah mereka itu senantiasa hadir hati kepada Allah SWT dan mengekali pada tiap-tiap masa (waktu) itu dengan  dzikrullah  (ingat kepada Allah) di dalam hati dan  syuhud (memandang dalam hati) akan Allah Taala. 
Tingkat taubat yang ketiga  ini, nampaknya bukan lagi “permulaan jalan bagi orang yang salik” karena orang yang bertaubat dari segala yang terlintas di dalam hati selain Allah itu adalah orang khawash al khawas,  yang setiap waktu mengingat Allah, bahkan memandang-Nya. Dengan kata lain, taubat pada tingkat ketiga ini adalah taubat orang yang sudah sampai ke puncak  makrifah yang berada di ujung jalan orang sufi,  yang hanya dicapai oleh seorang salik yang telah menempuh perjalanan panjang.

Pada tahap permulaan maqam taubat dalam perjalanan seorang salik  hanya meliputi taubat orang awam dan taubat orang khawash, yang masih bergulat melawan hawa nafsu untuk membebaskan diri dari “maksiat  lahir” dan “maksiat  batin.” Tetapi perjuangan ini pun belum dapat dirampungkan pada maqam taubat, karena maksiat batin hanya terhapus setelah seorang  salik berada pada  maqam zuhud.
Menurut al-Palimbani, dosa-dosa batin “tersimpan” dalam sepuluh perkara sebagai  berikut :
1. Banyak makan
2. Banyak berkata-kata,
3. Pemarah,
4. Dengki,
5. Kikir dan cinta harta
6. Cinta kemegahan dan kebesaran
7. Cinta dunia,
8. Tinggi hati,
9. Uzub,
10. Ria
 Sepuluh macam dosa ini, merupakan sebagian dari dosa besar yang ada di dalam hati. Di samping itu ada empat macam dosa besar yang termasuk dalam dosa bathin yaitu :
1. Menyekutukan Allah,
2. Mengekalkan berbuat maksiat,
3. Putus asa dari rahmat Allah,
4. Tidak takut siksa Allah.
 Perasaan “Cinta dunia” itu akan terhapus setelah seorang salik mencapai  maqam zuhud; tetapi sebelum sampai ke sana ia harus melewati  maqam takut dan harap,  yang erat hubungannya dengan kejiwaan seorang salik yang masih berada dalam tahap permulaan.
             
b. Takut dan Harap
 Pada tahap tertentu,  takut dan  harap sangat dominan dalam diri seorang  salik sehingga merupakan  maqamnya. Hal ini terjadi pada tahap permulaan, tetapi sebagaimana  halnya dengan maqamat
yang lain,  takut dan  harap ini pun menurut dia masing-masing dikatakan  maqam  bagi seorang salik apabila perasaan-perasaan ini mantap di dalam dirinya; kalau  hanya dirasakan pada saat-saat tertentu saja, hal itu termasuk ahwal.    Semakin dalam ilmu seseorang mengenai Tuhan dan mengenai dirinya, semakin tinggi pula rasa takutnya kepada Allah. Rasa takut kepada Allah dapat membebaskan seseorang dari takut pada
yang lain, bahkan melahirkan suatu  kepribadian yang disegani oleh semua orang. Dalam hal ini, Al-Palimbani mengutip hadits Nabi SAW : “Barang siapa takut akan Allah Taala niscaya takut akan dia oleh tiap-tiap sesuatu; dan barang siapa takut yang lain daripada Allah niscaya takut ia daripada tiap-tiap sesuatu”. Lebih penting lagi,
rasa takut kepada Allah akan  membawa seseorang untuk banyak berzikir kepada Allah dan melazimkan hadir hati kepada Allah Taala” membanyakkan dzikir akan melazimkan  mahabbah (cinta) Allah” yang membawa jinak hati kepada  Allah Taala;  semuanya itu membawa kepada makrifah Allah; dan tiada yang terlebih afdhal dan
mulia di dunia dan di akhirat melainkan makrifah akan Allah Taala. Dengan kata lain,  takut kepada Allah adalah suatu  maqam yang melahirkan maqamat sesudahnya yang akan menyampaikan seorang salik kepada makrifah.
 Tetapi, sebagaimana halnya rasa takut, rasa harap ini pun pada tahap tertentu dapat menguasai perasaan seorang  salik sehingga ia memiliki  maqam harap (raja’). Tetapi dua  maqam  ini menurut AlPalimbani, tidak ada yang lebih utama dari yang lain. “Khauf (takut) dan  raja’ (harap) menurutnya  seperti roti dan air; jikalau sangat
dahaga, maka air lebih afdal. Apabila seseorang putus asa dari rahmat Allah, maka  raja’ lebih afdhal baginya. Mana yang lebih utama antara takut dan harap, yang menentukan adalah keadaan orang yang bersangkutan.
 Amal perbuatan yang dikerjakan atas dasar harap pada dasarnya derajatnya lebih tinggi dari yang dilakukan atas dasar takut, bahkan rasa  harap itu sendiri lebih tinggi derajatnya daripada rasa takut, demikian dikatakan oleh Al-Palimbani. Menurutnya, hal ini diisyaratkan oleh Hadits nabi SAW : “Jangan mati seseorang  melainkan dia berbaik sangka pada Allah Taala” yakni membanyakkan  harap akan keridhaan Allah. Dengan demikian,
harap  kepada Allah itu adalah suatu  maqam yang lebih tinggi dari pada  pada  maqam takut, karena hal itu lebih dekat kepada  maqam cinta (mahabbah). Sebagaimana halnya  maqam takut,  maqam harap  ini pun dianggap lahir dari  ilmu.
Kalau yang pertama lahir dari ilmu seseorang mengenai siksaan Allah terhadap orang yang maksiat, rasa harap ini menurut Al-Palimbani dapat diperkuat dengan “memikirkan nikmat  yang diberikan oleh Allah Taala” yang tidak terhingga banyaknya.
Namun keduanya melahirkan buah yang sama, yakni  ketaatan mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Orang yang sudah mencapai tingkat makrifah, yakni orang arif,berada di  maqam cinta (mahabbah), tingkat para aulia Allah yang menurut Al-Qur’an “Tiada lagi bagi mereka rasa takut dan mereka pun tiada bersedih”. Tetapi untuk mencapai  maqam cinta  kepada Allah itu masih ada beberapa  maqam lagi yang harus dilalui; diantaranya adalah maqam zuhud.

(bersambung ke bagian Kedua)

(Ditulis ulang oleh: Dokumen Pemuda TQN Suryalaya News, sumber: http://digilib.sunan-ampel.ac.id, dari Tulisan Karya : Hasni Noor,S2  IAIN Antasari Banjarmasin Tahun 2004, Dosen Dpk pada Universitas Islam Kalimantan )
(dokumenpemudatqn.com)

Saturday, May 7, 2016



Bismillahirrahmanirrahim...
Nakal dari pada Asyih Abdul Rauf Fansury (Syiah Kuala) : Senat 1200 Hijriah.
1.    Bahwa lebih kurang dalam tahun 1260 Hijriah negeri Aceh akan ditimpa bala bencana.
2.    Bahwa dalam tahun 1320 Hijriah Aceh akan dikalahkan oleh kerajaan Ba yang datang dia dari pihak barat.
3.    Bahwa beberapa lama kemudian (lebih kurang) 45 musim kerajaan Ba dikalahkan oleh kerajaan Jim yang datang ia dari pihak matahari terbit.
4.    Bahwa lebih kurang Empat musim kerajaaan Jim  menguasai Aceh tiba-tiba ia keluar secepat mata karena ia dikalahkan oleh Peuraja ‘Ajam, Peuraja Gajah, Peuraja Cagee, Peuraja Singa dan barang sebagainya.
5.    Setelah kerajaan Jim keluar maka negeri Aceh dan negeri di bawah angin lainnya atas usaha isi negeri itu akan berdiri satu kerajaan yang menaklukkan negeri Aceh dan negeri di bawah angin lainnya bernama kerajaan itu berawal dengan huruf Alif dan berakhir dengan huruf Jim.
6.    Kerajaan itu akan berdiri sampai kuat, akan tetapi negeri haru-hara banyak bertumpah darah, rakyat banyak mudarat kehidupannya susah, perdagangan mahal, pakaiaan dan makanan mahal, yang pandai tutup mulut. orang besar-besar banyak dusta, semua rakyat berpaling muka pada pembesar-pembesar itu, perampasan terjadi ditiap-tiap simpang, tidak bersenjata dan banyak orang pada masa itu sangat suka pada merah dan kuning dengan menanti yang tidak mengaku Allah dan bermusuh dengan agama yang ada di atas bumi ini.
7.    Bahwa pada waktu itu ummat Islam banyak tersesat karena kurang ilmu, kurang amal, lemah iman, banyak dausa, ketika itu banyak ummat Islam meninggalkan mazhab yang  Empat dan membuat mazhab ke Lima dan itu lah tanda haru-hara, dan kutuk dan bala.
8.    Manusia pada waktu itu banyak membuang adat istiadat sendiri dan memakai adat istiadat orang lain dan pada masa itu lah manusia telah banyak meninggalkan Syariat nabi Muhammad Salaullahu ‘Alaihi Wassalam  dan mengkafirkan ‘Itiqad Ahlul Shunnah Waljama’ah dan pada waktu itu lah orang negeri banyak mengikut huruf Enam dan ada juga yang suka kepada huruf garis Fa, Kaf, Jim, atau sama dengan Kaf, Mim, Jim, Nun dan Sin. Mereka itu tidak mengaku ada Tuhan Rabbal ‘Alamin.
9.    Bahwa nanti akan datang pada suatu masa rakyat akan bangkit dengan amarahnya seperti api berbara, bermaksud membela negeri dan bermaksud hendak melepaskan diri dari kuning dan merah, dan barang sebagainya. Akan tetapih kelakuaannya bermacam-macam ragam dan pada akhirnya yang memindahkan kuning dan merah itu lah yang menang, yakni golongan yang tidak suka kepada pekerjaan atau perbuatan yang salah serta berdirilah agama menurut Ahlul Shunnah Waljama’ah yang bermajhab dengan majhab dari majhab yang Empat. Negeri aman, damai, adil, makmur seperti dahulu kala, yakni akan menang orang-orang yang beriman Wassalam Wahasunal Khitam ‘Allaman Attabi’ul Huda Wallahu ‘Allam Bissawab.

Pembaca Kita dalam huruf Arab Jawo  : Tengku Ilyas Puteh
Penulis                                                  :  Khairul Rizal

Friday, May 6, 2016

العارف بالله
الشيخ أحمد الرفاعي
ترجمته
هو السيد الشريف مرشد الإسلام صاحبُ مَنْقَبَةِ  تقبيل يدِ الرسول الأمين، سيدنا  أبو العباس الشيخ أحمد الرفاعي الكبير رضي الله عنه ابن السيد السلطان علي أبي الحسن دفين بغداد ابن السيد يحيى المغربي ابن السيد الثابت ابن السيد الحازم ابن السيد أحمد ابن السيد علي ابن السيد أبي المكارم رفاعة الحسن المكي ابن السيد المهدي ابن السيد محمد أبي القاسم ابن السيد الحسن ابن السيد الحسين أحمد ابن السيد موسى الثاني ابن الإمام إبراهيم المرتضى ابن الإمام موسى الكاظم ابن الإمام جعفر الصادق ابن الإمام محمد الباقر ابن الإمام زين العابدين علي ابن الإمام الشهيد المظلوم الحسين السبط ابن الإمام عَلَم الإسلام زوج البتول أم الحسنين عليها السلام سيدنا علي كرم الله وجهه ورضي عنه.
وقد ثبتت نسبته من جهة أمه أيضًا إلى سيدنا الحسين ابن السيدة فاطمة الزهراء بنت الرسول صلى الله عليه وسلم ويتصل نسبه بأمير المؤمنين أبي بكر الصديق رضي الله عنه من جهة جده الإمام جعفر الصادق لأن أم الإمام جعفر الصادق هي فروة بنت القاسم بن محمد بن أبي بكر الصديق رضي الله عنه.
ولد رضي الله عنه سنة خمسمائة واثني عشرة للهجرة في العراق في البطائح، والبطائح عدة قرى مجتمعة في وسط الماء بين واسط والبصرة، وفي السابعة من عمره توفي أبوه في بغداد، فكفله خاله الشيخ الزاهد القدوة منصور البطائحي وقد رباه تربية دينية وأحسن تربيته.
والإمام الرفاعي مؤسس الطريقة الرفاعية، وهذه إحدى الطرق التي أحدثها أكابر الأولياء كالجيلاني والنقشبندي وغيرهم رضوان الله عليهم، وهي من البدع الحسنة وإن شذ بعض المنتسبين إليها فهذا لا يقدح في الأصل.
نشأته العلمية ومشايخه
نشأ الإمام الرفاعي منذ طفولته نشأة علمية وأخذ في الانكباب على العلوم الشرعية، فقد درس القرءان العظيم وترتيله على الشيخ عبد السميع الحربوني في قريته وله من العمر سبع سنين. وانتقل مع خاله ووالدته وإخوته إلى بلدة «نهر دفلي» من قرى واسط في العراق وأدخله خاله على الإمام الفقيه الشيخ أبي الفضل علي الواسطي رضي الله عنه وكان مُقرئًا ومحدثًا وواعظًا عالي الشأن. فتولى هذا الإمام أمره وقام بتربيته وتأديبه وتعليمه، فجدّ السيد أحمد الرفاعي في الدرس والتحصيل للعلوم الشرعية حتى برع في العلوم النقلية والعقلية، وأحرز قصب السبق على أقرانه وكان الإمام أحمد الرفاعي رضي الله عنه يلازم دروس العلم ومجالس العلماء، فقد كان يلازم درس خاله الشيخ أبي بكر أحد علماء زمانه كما كان يتردد على حلقة خاله الشيخ منصور البطائحي، وتلقى بعض العلوم على الشيخ عبد الملك الحربني، وحفظ رضي الله عنه «كتاب التنبيه» في الفقه الشافعي للإمام أبي إسحـٰـق الشيرازي وقام بشرحه شرحًا عظيمًا، وأمضى رضي الله عنه أوقاته في تحصيل العلوم الشرعية على أنواعها وشمر للطاعة وجدّ في العبادة حتى أفاض الله عليه من لدنه علمًا خاصًا حتى صار عالمًا وفقيهًا شافعيًا وعالـمًا ربانيًا رجع مشايخه إليه وتأدّب مؤدبوه بين يديه.
وكان الشيخ الجليل أبو الفضل علي محدث واسط وشيخها قد أجاز الإمام أحمد الرفاعي وهو في العشرين من عمره إجازة عامة بجميع علوم الشريعة والطريقة وأعظم شأنه ولقبه «بأبي العلمين» أي الظاهر والباطن، لما أفاض الله عليه من علوم كثيرة حتى انعقد الإجماع في حياة مشايخه واتفقت كلمتهم على عظيم شأنه ورفعة قدره.
وفي الثامن والعشرين من عمر الإمام أحمد الرفاعي الكبير عهد إليه خاله الشيخ منصور بمشيخة الشيوخ ومشيخة الأروقة المنسوبة إليه وأمره بالإقامة في أم عبيدة برواق جده لأمه الشيخ يحيى النجاري والد الشيخ منصور الذي تولى كفالته وتعليمه منذ طفولته.
مناقب الإمام الرفاعي
أثنى عليه الإمام أبو القاسم عبد الكريم الرافعي إمام الشافعية المعروف بوفور العلم والزهد والكرامة، قال رحمه الله فى كتابه «سواد العينين في مناقب الغوث أبي العلمين» فى الثناء على الشيخ أحمد الرفاعي رضي الله عنه ما نصه: «حدثني الشيخ الإمام أبو شجاع الشافعي فيما رواه قائلاً : كان الشيخ  أحمد الرفاعي رضي الله عنه عَلَمًا شامخًا وجبلًا راسخًا وعالـمًا جليلاً محدّثًا فقيهًا مفسرًا ذا روايات عاليات وإجازات رفيعات قارئًا مُجَوّدًا حافظًا مُجيدًا حجة متمكنًا في الدين سهلاً على المسلمين، صعبًا على الضالين، هينًا لينًا هشًا بشًا لين العريكة، حَسَنَ الخَلق، كريمَ الخُلُق، حلو المكالمة لطيف المعاشرة لا يمله جليسه، ولا ينصرف عن مجالسه إلا لعبادة، حمولا للأذى، وفيًا إذا عاهد، صبورًا على المكاره،  متواضعًا من غير ذلة، كاظمًا  للغيظ من غير حقد، أعرف أهل عصره بكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم وأعلمهم بها، بحرًا من بحار الشرع، سيفًا من سيوف الله، وارثًا أخلاق جده رسول الله صلى الله عليه وسلم » ا.هـ.
وقال الرافعي أيضًا: «وقال لي شيخنا عمر الفاروثى أخبرني الشيخ بدر الأنصاري عن الشيخ الإمام منصور البطايحي الرباني قال: «رأيت النبي صلى الله عليه وسلم قبل ولادة ابن أختي الشيخ أحمد الرفاعي بأربعين يومًا في الرؤيا فقال لي: يا منصور أُبشّرك أن الله يعطي أختك بعد أربعين يومًا ولدًا يكون اسمه أحمد الرفاعي، مثلما أنا رأس الأنبياء كذلك هو رأس الأولياء، وحين يكبر خُذْه إلى الشيخ علي القارىء الواسطي وأعطه له كي يربيه لأن ذلك الرجل عزيز عند الله ولا تغفل عنه، فقلت: الأمر أمركم يا رسول الله عليك الصلاة والسلام. وكان الأمر كما ذكر رسول الله صلى الله عليه وسلم.
وقال الرافعي أيضًا: «أخبرني الفقيه العالم الكبير أبو زكريا يحيى ابن الشيخ الصالح يوسف العسقلاني الحنبلي قال: كنت في أم عبيدة زائرًا عند السيد أحمد الرفاعي وفي رواقه وحوله من الزائرين أكثر من مائة ألف إنسان، فيهم من الأمراء والعلماء والشيوخ والعامة، وقد احتفل بإطعامهم وإكرامهم وحسن البشر لهم كل على حاله، وكان يصعد الكرسي بعد الظُهر فيعظ الناس، والناس حِلَقًَا حِلَقًَا حوله. فصعد الكرسي ظُهر خميس، وفي مجلسه وعاظ واسط وجَمٌ غفير من علماء العراق وأكابر القوم فبادره قوم بأسئلة من التفسير وءاخرون بأسئلة من الحديث وجماعة من الفقه وجماعة من الخلاف وجماعة من الأصول وجماعة من علوم أُخر، فأجاب عن مائتي سؤال من علوم شتى ولم يتغير حاله حال الجواب ولا ظهر عليه أثر الحدة، فأخذتني الغيرة من سائليه فقمت وقلت: أما كفاكم هذا والله لو سألتموه عن كل علم دُوِّن لأجابكم بإذن الله بلا تكلف، فتبسم وقال: دعهم يا أبا زكريا فليسألوني قبل أن يفقدوني فإن الدنيا زوال والله محوّل الأحوال. فبكى الناس وتلاطم المجلس بأهله وعلا الضجيج ومات في المجلس خمسة رجال وأسلم من الصابئين والنصارى واليهود ثمانية ءالاف رجل أو أكثر وتاب أربعون ألف رجل».
وقال الرافعي أيضًا: «أخبرني الشيخ العدل أبو موسى الحدادي قال أخبرني الشيخ أبو محمد جمال الدين الخطيب أن بنتًا في الحدادية يقال لها فاطمة، كانت أمها لا يولد لها ولد، فنذرت إن رزقها الله ولدًا أن تجعله ما دام حيًا في خدمة من يَرِد الحدادية من فقراء سيدنا الشيخ أحمد الرفاعي، فبعد مدة يسيرة قدَّر الله  فحملت، ثم لما وضعت وأتت بالمولود إذا هي بنت حدباء فلما كبرت وءان أوان مشيها إذا بها عرجاء، ثم سقط شعر رأسها لعاهة، ففي يوم من الأيام حضر السيد أحمد الكبير رضي الله عنه الحدادية فاستقبله أهلها، والعرجاء فاطمة بين الناس مع النساء وبنات الحدادية يستهزئن بها، فلما أقبلت على سيدنا الشيخ أحمد قالت: أي سيدي أنت شيخي وشيخ والدتي وذخري أشكو إليك ما أنا فيه لعل الله ببركة ولايتك وقرابتك من رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يعافيني مما أنا فيه فقد زهقت (تعبت) روحي من استهزاء بنات الحدادية. فأخذته الشفقة عليها وبكى رحمة لحالها ثم ناداها: ادنِي مني. فدنت منه فمسح بيده المباركة على رأسها وظَهْرِها ورجليها فنبت بإذن الله شعرها وذهب احديدابُها وتقومت رجلاها وحَسُنَ حالها».
كرامته بتقبيل يد النبي صلى الله عليه وسلم
قال الرافعي في كتابه الذي ألّفه في الثناء على الإمام الرفاعي فسماه «سواد العينين في مناقب الغوث أبي العلمين» ما نصه: «أخبرني شيخنا الإمام الحجة القدوة أبو الفرج عمر الفاروثي الواسطي قال: حجَّ سيدنا وشيخنا السيد أحمد الرفاعي عام خمس وخمسين وخمسمائة فلما وصل إلى المدينة وتشرف بزيارة جده عليه الصلاة والسلام وقف تجاه حجرة النبي صلى الله عليه وسلم ووقفنا خلف ظهره فقال: السلام عليك يا جدي فقال له عليه أفضل صلوات الله: وعليك السلام يا ولدي، فتواجد لهذه النغمة (أي لحسن الصوت) وقال منشدًا:
في حالة البعد روحي كنت أرسلها/تُـقَبِّلُ الأرض عني وهي نائبتي
وهذه دولة الأشباح قد حضرت /فامدد يمينك كي تحظى بها شفتي
فمدَّ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم يده الشريفة من قبره الكريم فقبلها في ملأ يقرب من تسعين ألف رجل، والناس ينظرون يد النبي صلى الله عليه وسلم ويسمعون كلامه، وكان فيمن حضر الشيخ حياة بن قيس الحراني والشيخ عبد القادر الجيلي والشيخ عدي الشامي وشاهدوا ذلك هم وغيرهم رضي الله عنهم أجمعين».ا.هـ.
والرافعي المذكور وصفه التاج السبكي في«طبقات الشافعية» بقوله: «كان الإمام الرافعي متضلعًا في علوم الشريعة تفسيرًا وحديثًا وأصولا مترفعًا على أبناء جنسه في زمانه نقلا وبحثًا وإرشادًا وتحصيلًا.  وأما الفقه فهو فيه عمدة المحققين وأستاذ المصنفين، كأنما كان الفقه ميتًا فأحياه وأنشره وأقام عماده بعدما أماته الجهل فأقبره».
وكذلك ترجمه (أي الرافعي) صاحبُ مختصر تلخيص الأسدي في طبقات الشافعية وأثنى عليه ثناءً عظيمًا.
وقد روى هذه الحادثة المشهورة الجلال السيوطي في رسالته التي ألفها في الثناء على السيد أحمد الرفاعي رضي الله عنه سماها «الشرف المحتم فيما منَّ الله به على وليه السيد أحمد الرفاعي من تقبيل يد النبي صلى الله عليه وسلم»، قال ما نصه:
«حدثنا شيخنا شيخ الإسلام الشيخ كمال الدين إمام الكاملية عن شيخ مشايخنا الإمام العلاّمة الهمـام الشيخ شمس الدين الجزري عن شيخه الإمام الشيخ زين الدين المراغى عن شيخ الشيوخ البطل المحدّث الواعظ الفقيه المفسر الإمام  القدوة الحجة الشيخ عز الدين أحمد الفاروثي الواسطي عن أبيه الأستاذ الأصيل العلاّمة الجليل الشيخ أبي إسحـٰـق إبراهيم الفاروثي عن أبيه إمام الفقهاء والمحدّثين وشيخ أكابر الفقراء «الصوفية» والعلماء العاملين الشيخ عز الدين عمر أبي الفرج الفاروثي الواسطي قُدِّسَت أسرارهم أجمعين قال: «كنت مع شيخنا ومَفْزعنا (ملجئنا) وسيدنا أبي العباس القطب الغوث الجامع الشيخ أحمد الرفاعي الحسيني رضي الله عنه عام خمس وخمسين وخمسمائة، العام الذي قدر الله له فيه الحج، فلما وصل مدينة رسول الله صلى الله عليه وسلم وقف تجاه حجرة النبي عليه الصلاة والسلام وقال على رءوس الأشهاد: السلام عليك يا جدي، فقال له عليه الصلاة والسلام: وعليك السلام يا ولدي، سمع ذلك كل من في المسجد النبوي فتواجد سيدنا السيد أحمد وأُرعد واصفر لونه وجثا على ركبتيه ثم قام وبكى وأنّ طويلا وقال يا جداه:
في حالة البعد روحي كنت أرسلها/ تُقَبِّلُ الأرض عني وهي نائبتي
وهذه دولة الأشباح قد حضرت /فامدد يمينك كي تحظى بها شفتي
فمدَّ له رسول الله صلى الله عليه وسلم يده الشريفة العطرة من قبره الأزهر المكرم فقبّلها في ملأ يقرب من تسعين ألف رجل، والناس ينظرون اليد الشريفة، وكان في المسجد مع الحجاج الشيخ حياة بن قيس الحراني والشيخ عبد القادر الجيلي المقيم ببغداد والشيخ خميس والشيخ عدي بن مسافر الشامي وغيرهم نفعنا الله بعلومهم وشرفنا معهم برؤية اليد المحمدية الزكية، وفي يومها لبس الشيخ حياة بن قيس الحراني خرقة السيد أحمد الكبير واندرج في سلك أصحابه». ومن ثم ساق السيوطي إسناد هذه القصة من عدة طرق أُخَر ثم قال: «ومن المعلوم أن هذه المنقبة المباركة بلغت بين المسلمين مبلغ التواتر وعلت أسانيدها وصحت رواياتها واتفق رواتها، وإنكارها من شوائب النفاق معاذ الله. ثم ذكر ردًا على سؤال: هل يعني ذلك أن الرفاعي دخل في تعداد الصحابة لرؤيته يد النبي صلى الله عليه وسلم وكذا الزوار؟ فأجاب: والأصح عدم الدخول. وبهذا قال السخاوي وغيره لأن الحجة استمرار حياته عليه الصلاة والسلام وهذه الحياة أخروية ليست بدنيوية لا تتعلق بها أحكام الدنيا».
كما أن اجتماع النبي صلى الله عليه وسلم بالأنبياء بعد وفاتهم في الأقصى ليلة الإسراء لا يعني دخولهم في تعداد الصحابة.
والمعلوم أن السيوطي هذا أجيز بالإفتاء والتدريس حتى بلغ أسماء شيوخه إجازة وقراءة وسماعًا واحدًا وخمسين، وصنّف المصنفات الكثيرة حتى بلغت ما يقارب خمسمائة مؤلف فاشتهرت مؤلفاته في أقطار الأرض فتأمل.
زهده وتواضعه
كان الإمام أحمد الرفاعي الكبير رضي الله عنه متواضعًا في نفسه خافضًا جناحه لإخوانه غير مترفع وغير متكبر عليهم، وروي عنه أنه قال: «سلكت كل الطرق الموصلة فما رأيت أقرب ولا أسهل ولا أصلح من الافتقار والذل والانكسار». فقيل له: يا سيدي فكيف يكون. قال: «تعظم أمر الله، وتشفق على خلق الله وتقتدي بسنة سيدك رسول الله صلى الله عليه وسلم ». وكان رضي الله عنه يخدم نفسه، ويخصف نعله، ويجمع الحطب بنفسه ويشده بحبل ويحمله إلى بيوت الأرامل والمساكين واصحاب الحاجات، ويقضي حاجات المحتاجين ويقدم للعميان نعالهم ويقودهم إذا لقي منهم أناسًا إلى محل مطلوبهم، وكان رضي الله عنه يمشي إلى المجذومين والزمنى ويغسل ثيابهم ويحمل لهم الطعام، ويأكل معهم ويجالسهم ويسألهم الدعاء، وكان يعود المرضى وإذا سمع بمـريض في قريـة ولـو على بعـد يمضي إليه ويعوده. وكان شفيقًا على خلق الله يرأف باليتيم. ويبكي لحال الفقراء ويفرح لفرحهم، وكان يتواضع كل التواضع للفقراء.
وقد قال مشايخ أهل عصره: «كل ما حصل لابن الرفاعي من المقامات إنما هو من كثرة شفقته على الخلق وذل نفسه رضي الله عنه». وكان رضي الله عنه يعظم العلماء والفقهاء ويأمر بتعظيمهم واحترامهم ويقول: «هؤلاء أركان الأمة وقادتها».
فضل الرفاعية
ثم إن ما عُرف عن أتباع الشيخ أحمد الرفاعي رضي الله عنه من دخول الأفران الحامية ورقود بعضهم في بعض جوانب الفرن والخباز يخبز في الجانب الآخر، ودخولهم النار العظيمة ونحو ذلك فإنها ليست أحوالاً شيطانية كما يقول نفاة التوسل وابن تيمية الحراني بل هي أحوال سامية.
وقد ثبت أن إبراهيم الخليل عليه السلام ما أثرت فيه تلك النار العظيمة وهي معجزة له، والقاعدة أن كل معجزة لنبي صح أن تكون كرامة لولي إلا ما كان من خصائص النبوة، وهذا أبو مسلم الخولاني اشتهر عنه أنه رماه الأسود العنسي المتنبي في النار ثلاث مرات فلم تؤثر فيه وهذه كرامة له. ثم بسبب مشايخ الرفاعية أسلم السلطان أحمد بن هولاكو ملك التتار.
واعلم يا أخي المسلم أن ابن  الملقن ذكر في أواخر كتابه  «طبقات الأولياء» قصيدة في مدح الإمام الرفاعي والرفاعية فقال:
إن الرفاعيين أصحاب الوفا       والجود للعافي المُلِمِّ المزْملي
كم فيهم من عارف ذي همة   أو صادق عن عزمه لـم يفشلِ
ومن مزايا هذه الطريقة على غيرها  مكافحة عقيدة الوحدة وعقيدة الحلول أكثر من غيرهم من أهل الطرق. وقد أخذ أهلها ذلك عن شيخ الطريقة الشيخ أحمد الرفاعي ثم  اتبعه كل خلفاء طريقته إلى هذا العصر،  فلهم بذلك فضل على غيرهم لأن هاتين العقيدتين من أخبث العقائد الكفرية. ثم إن الإمام الرفاعي رضي الله عنه لم يقتصر على إنكار اعتقادهما بل ينكر اللفظ بهما ولو من غير اعتقاد معنى الحلول والوحدة.
الإمام الرفاعي يحارب التشبيه
قال الإمام أبو القاسم الرافعي رحمه الله عن الإمام الرفاعي أنه قال في الحلاج: «ما أراه رجلا عارفًا ما أراه شرب ما أراه سمع إلا رنة أو طنينًا فأخذه الوهم من حال إلى حال من ازداد قربًا ولم يزْدَد خوفًا فهو ممكور يذكرون عنه أنه قال أنا الحق،  أخطأ بوهمه لو كان على الحق ما قال أنا الحق».
وقال الإمام الرفاعي رضي الله عنه: «لفظتان ثلمتان في الدين (أي ثغرة في الدين، هدم للدين) القول بالوَحدة والشطح المجاوز حدَّ التحدث بالنعمة» فقوله هذا صريح في أن القول بالوحدة المطلقة مهلك لصاحبه لأن هذه الفرقة تعتقد أن هذا العالم هو الله.
وقال الإمام الرافعي رحمه الله: «وكتب رضي الله عنه (أي الإمام الرفاعي) كتابًا إلى الشيخ الأجلّ عبد السميع الهاشمي الواسطي قدس الله سره يوصيه به قال فيه: إياك والقول بالوحدة التي خاض بها بعض المتصوفة، وإياك والشطح».
وقال أحد الرفاعية ممن كان في أوائل القرن الرابع عشر الهجري وهو الشيخ العالم أبو الهدى الصيادي رحمه الله في رسالة له ما نصه: «تنبيه: من قال «أنا الله»  أو «لا موجود إلا الله»  أو  «ما في الوجود إلا الله»  أو «هو الكل» فإن كان في عقله حُكِمَ بِردَتِه».
تلاميذه والمنتسبون إليه بالطريقة
كثُرَ تلاميذ الإمام أحمد الرفاعي الكبير في حياته وبعد مماته حتى قال ابن المهذب في كتابه «عجائب واسط»: بلغ عدد خلفـاء السيد أحمد الرفاعي رضي الله عنه وخلفائهم مائة وثمانين ألفًا حال حياته، ومن عظيم فضل الله على السيد الجليل أحمد الرفاعي أنه لم يكن في بلاد المسلمين مدينة أو بليدة أو قطر تخلو ربوعه وزواياه من محبيه وتلامذته العارفين المرضيين.
وكان غالب الأقطاب المشهورين في الأقطار الإسلامية ينتهون إليه من طريق الخرقة على الغالب لذلك لُقب الإمام أحمد رضي الله عنه بشيخ الطرائق وأستاذ الجماعة والشيخ الكبير إلى ءاخر ما هنالك من الألقاب.
ومن الذين ينتمون إليه: الشيخ الحافظ عز الدين الفاروثي، والشيخ أحمد البدوي، والعارف بالله أبو الحسن الشاذلي، والشيخ نجم الدين الأصفهاني شيخ الإمام الدسوقي، والشيخ أحمد علوان اليماني، والحافظ جلال الدين السيوطي، والشيخ عقيل المنبجي، والشيخ علي الخواص، وغيرهم كثيرون من الأقطاب والعلماء ومشايخ الطرق.
كتبه ومؤلفاته
للسيد الإمام أحمد الرفاعي مؤلفات كثيرة أكثرها فقد في موقعة التتار، ومما وصل إلينا من كتبه: «حالة أهل الحقيقة مع الله» و«الصراط المستقيم» و«كتاب الحكم شرح التنبيه (فقه شافعي)» و«البرهان المؤيد» و«معاني بسم الله الرحمـٰن الرحيم» و«تفسير سورة القدر» و«البهجة» و«النظام الخاص لأهل الاختصاص» و«المجالس الأحمدية» و«الطريق إلى الله».
وفاته رضي الله عنه
عندما بلغ الإمام أحمد الرفاعي السادسة والستين من عمره مرض بداء البطن (الإسهال الشديد) وبقي رضي الله عنه مريضًا أكثر من شهر، وكان مع خطورة مرضه يتحمل الآلام الشديدة بدون تأوه أو شكوى، مستمرًا وثابتًا على تأدية الطاعات والعبادات التي اعتاد عليها بقدر استطاعته إلى أن وافته المنية يوم الخميس الثاني عشر من شهر جمادى الأولى سنة خمسمائة وثماني وسبعين هجرية، ودفن في قبة جده لأمه الشيخ يحيى النجاري في بلدة أم عبيدة، وكان يومًا مهيبًا. رحم الله الإمام أحمد الرفاعي وأعلى مقامه في الجنة وأمدنا بأمداده وثبتنا على طريقته الشريفة.

منقول من سن فيل

Wednesday, May 4, 2016

الإسراء والمعراج .. رؤية صوفية
يقول الشيخ نجم الدين الكبرى : « مرتبة العوام في الإيمان : ما قال :
أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله وبالبعث بعد الموت والجنة والنار والقدر خيره وشره وهو إيمان غيبي … ومرتبة الخواص في الإيمان : هو إيمان عياني : وكان ذلك بأن الله إذا تجلى لعبده بصفة من صفاته خضع له جميع أجزاء وجوده ، وآمن بالكلية عياناً بعدما كان يؤمن قلبه بالغيب ونفسه تكفر بما آمن به قلبه إذا كانت النفس عن تنسم روائح الغيب بمعزل ، فلما تجلى الحق للجبل جعله دكاً وخر موسى النفس صعقاً ، فالنفس في هذا المقام تكون بمنزلة موسى :
فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ .
ومرتبة الأخص في الإيمان : هو إيمان عياني : وذلك بعد رفع حجب الأنانية بسطوات تجلي صفة الجلال ، فإذا أفناه عنه بصفة الجلال يبقيه به بصفة الجمال ، فلم يبق له الأين وبقي في العين ، فيكون إيماناً عينياً كما كان حال النبي ليلة المعراج ، فلما بلغ قاب قوسين كان في حيز أين ، فلما جذبته العناية من كينونته إلى عينونة : أَوْ أَدْنَى . فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ
أي : من صفات ربه ، فآمنت صفاته بصفاته تعالى ، وذاته بذاته ، فصار كل وجوده مؤمناً بالله إيماناً عينياً ذاته وصفاته » .
وعن بسط الزمان يقول الشيخ سعيد النورسي : « بسط الزمان : هو ما يثبته ويظهره فعلاً المعراج النبوي ، فقد انبسط فيه دقائق معدودة إلى سنين عدة ، فكانت لساعات المعراج من السعة والإحاطة والطول ما لألوف السنين ، إذ دخل بالمعراج إلى عالم البقاء ، فدقائق معدودة من عالم البقاء تضم ألوفاً من سني هذه الدنيا » .
وعن المحبوب الكلي يقول الغوث الأعظم عبد القادر الجيلاني قدس سره العزيز :
« المحبوب الكلي : هو أحمد المصطفى . وجد عين الحياة الحقيقية في معارج المعراج ليلة أسري بعبده في مجلس : ( ما زاغَ الْبَصَرُ وَما طَغى ) قيل له : اغتسل منا بماء : ( ما كَذَبَ الْفُؤادُ ما رَأى ) وخذ من دررها عقدا ينظمه لك ناظم الشرف في سلك : ( لَقَدْ رَأى مِنْ آياتِ رَبِّهِ الْكُبْرى ) ، هذا معنى ذاتك لا تموت بعده » .
ويقول الشيخ نجم الدين الكبرى : « فضل كل صاحب يكون على قدر استعلاء ضوء نوره ، لأن الرفعة في الدرجات على قدر رفعة الاستعلاء ، كما قال تعالى : والَّذينَ أوتوا الْعِلْمَ دَرَجاتٍ فالعلم هو الضوء من نور الوحدانية ، فكلما ازداد العلم زادت الدرجة فناهيك عن هذا المعنى قول النبي فيما يخبر عن المعراج ، أنه رأى آدم في السماء الدنيا وعيسى في السماء الثانية ... وعبر النبي حتى رفع إلى سدرة المنتهى ، ومن ثم إلى قاب قوسين أو أدنى ، فهذه الرفعة في الدرجة في القرب إلى الحضرة كانت له ، على قدر قوة ذلك النور في استعلاء ضوئه ، وعلى قدر غلبات أنوار التوحيد على ظلمات الوجود كانت مراتب الأنبياء بعضهم فوق بعض » .
وعن الذكر وحقيقته الروحية نقول : إذا كانت الصلاة بنص حديث الرسول الأعظم عماد الدين ، من أقامها فقد أقام دينه ، ومن تركها فقد هدم دينه ، فلا شك إذا بأن ذكر الله تعالى هو الأهم في الدين ، لأن الحق سبحانه وتعالى فضله على الصلاة في قوله : إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ بل إن الصلاة بما تشتمل عليه من معان تعبدية ظاهرة وباطنة تصل إلى كونها المعراج الروحي بين العبد وربه ، فإنها ليست أكثر من عنوان من عناوين ذكر الله تعالى لقوله تعالى : أَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْري فالذكر يعم فيشمل ، الصلاة ، والصيام ، وكل العبادات ، والمعاملات بما تنطوي عليه كل عبادة من خصائص وفضائل ودرجات ومراتب إيمانية في ديننا الإسلامي العظيم .
إن رأينا هذا مبني على أساس نظرتنا إلى أن الذكر في ذاته حقيقة نورانية مطلقة ، شملت الوجود كله بإشعاعاتها المباركة فتمثلت في كل ما يذكر الله تعالى بشكل عام ، وفي كل ما يوصل إليه سبحانه وتعالى مما جاءت به أو أشارت إليه الشريعة الإسلامية السمحاء بشكل خاص . فمن خلال هذه الحقيقة الأزلية وامتداد أنوارها في كل ذرة من ذرات الوجود ، نطقت الموجودات بتسبيح بارئها ، وكلُ على حسب مرتبته التكوينية ، وعن هذا الذكر قال تعالى:
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهونَ تَسْبيحَهُمْ إِنَّهُ كانَ حَليماً غَفوراً وأهل الحقائق يشهدون هذا التسبيح الدائم والذكر القائم ، فيشهدون الحق تعالى متجلياً في الآفاق وفي أنفسهم . وحين يتجهون إلى العبادات لا تكون عندهم عبادة أنى كانت تلك العبادة الشرعية إلا وهي نوع من أنواع الذكر لله تعالى ، ذلك لأن كل أنواع العبادات ما هي إلا وسائل تذكر المخلوق بالخالق العظيم وتربطه به ، وبالتالي فهي صور منوعة لتسبيح الله تعالى . ولهذا فقد رأينا (كما تقدم في المبحث السابق المشار إليه ) أن الذكر ينقسم على أقسام : ذكر اللسان ، الذكر القلبي ، الذكر بالعمل الصالح .
وفي أنواع الرؤية ليلة المعراج يقول الشيخ أحمد بن علوية المستغانمي : « يذكر القرآن نوعين من الرؤية وقعا للنبي ليلة الإسراء والمعراج : أحدهما بالبصيرة ، والأخرى بالبصر ، وكانت رؤيته لسدرة المنتهى من النوع الثاني ، ولقد ورد وصفها في القرآن بما يلي :
وَلَقَدْ رآهُ نَزْلَةً أُخْرى . عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهى » .
والرابطة الروحية في اصطلاح الكسنزان نقول عنها : هي أول درجات سلم المعراج الصوفي .
وعن رجال المطلع يقول الشيخ الأكبر ابن عربي : « هم الذين لهم التصرف في الأسماء الإلهية ، فيستنزلون بها منها ما شاء الله ، وهذا ليس لغيرهم ، ويستنزلون بها كل ما هو تحت تصريف الرجال الثلاثة ، رجال الحد والباطن والظاهر ، وهم أعظم الرجال ، وهم الملامية ، هذا في قوتهم وما يظهر عليهم من ذلك شيء » .
ويقول الشيخ نجم الدين الكبرى : « فضل كل صاحب فضل يكون على قدر استعلاء ضوء نوره ؛ لأن الرفعة في الدرجات على قدر رفعة الاستعلاء ، كما قال تعالى : والَّذينَ أوتوا الْعِلْمَ دَرَجاتٍ   فالعلم هو الضوء من نور الوحدانية ، فكلما ازداد العلم زادت الدرجة ، فناهيك عن هذا المعنى قول النبي فيما يخبر عن المعراج : أنه رأى آدم في السماء الدنيا ويحيى وعيسى في السماء الثانية ... وعبر النبي حتى رفع إلى سدرة المنتهى ، ومن ثم إلى قاب قوسين أو أدنى ، فهذه الرفعة في الدرجة في القرب إلى الحضرة كانت له على قدر قوة ذلك النور في استعلاء ضوئه ، وعلى قدر غلبات أنوار التوحيد على ظلمات الوجود كانت مراتب الأنبياء بعضهم فوق بعض » .
ويقول الغوث الأعظم عبد القادر الجيلاني قدس الله سره : « إن من العلم كهيئة المكنون لا يعلمه إلا العلماء بالله تعالى فإذا نطقوا به لم ينكره أهل العزة وهذا هو السر الذي استودع في قلب النبي ليلة المعراج في أبطن البواطن الثلاثين ألفاً ، ولم يفشها على أحد من العامة سوى أصحابه المقربين وأصحاب الصفة ، فبركة ذلك السر قيام الشريعة إلى يوم القيامة . فالعلم الباطن يهدي إلى ذلك السر ، والعلوم والمعارف كلها قشر ذلك السر » .
وعن الإسراء والمعراج ( النبوي والصوفي ) عند ابن عربي تقول الدكتورة سعاد الحكيم : « لقد جمعنا كلمتي إسراء ومعراج على ما بينهما من تفرقة ، لأن الفكر الإسلامي أوردهما مرتبطتين من جهة ، فلا يذكر الإسراء إلا ويثنى بالمعراج ، ولأن ( الإسراء ) المحمدي هو في الوقت عينه ( معراج ) ففي إسرائه ليلاً عرج إلى السماء ، أو على وجه التحديد الإسراء هو المرحلة الأولى من الرحلة المحمدية - إذا أمكن التعبير - والمعراج هو المرحلة الثانية منها . وننقل الآن نصوصاً ثلاثة توجه قصدنا في الوصول إلى خصائص المعراج النبوي : يقول : « فهو تعالى معنا أينما كنا ... فما نقل الله عبداً من مكان إلى مكان ليراه ، بل ليريه من آياته ... » « وأعطاه الله في نفسه ( محمد ) علماً عَلِمَ به ما لم يكن يعلمه قبل ذلك عن وحي من حيث لا يدري وجهته . فطلب الإذن في الرؤية بالدخول إلى الحق ، فسمع صوتاً ... يقول له : يا محمد قف إن ربك يصلي ... فأوحى الله إليه في الوقفة ما أوحى ، ثم أمر بالدخول فرأى عين ما علم لا غير ، وما تغيرت صورة اعتقاده » . « ألا ترى النبي في هذا المعراج قد فرضت عليه وعلى أمته خمسون صلاة فهو معراج تشريع وليس للولي ذلك » .
يتضح من النصوص الثلاثة السابقة :

1. إن الله أسرى بمحمد ليريه من آياته ، وليس إليه .
2. إن الإسراء تعليم وعلم ذوقي .
3. إن الإسراء والمعراج هما في الحقيقة مرحلتان من مراحل اليقين .

الإسراء : عبور من ( علم اليقين ) إلى ( عين اليقين ) ، من حيث أن حق اليقين هو شهود لعلمه ، وجملة ابن عربي السابقة ( النص الثاني ) تؤكد ذلك : ( فرأى عين ما علم لا غير ) .
المعراج : هو عبور ( من عين اليقين ) إلى ( حق اليقين ) من حيث أن حق اليقين هو العلم الذي يتبع ( الرؤية ) أو ( العين ) . ونرى ابن عربي يكمل جملته التي تشير إلى كون الإسراء عبوراً من علم اليقين إلى عينه ، وبالتالي : ( ما تغيرت عليه صورة اعتقاده ) .
إذن المعراج وصول إلى حق اليقين ، لأن طبيعة ما وصل إليه : عقيدة ، أي علم بعد عين .
ويمكن تلخيص هذه الملاحظة الثالثة كالآتي :
فرأى عين ما علم : علم عين = إسراء .
وما تغير عليه صورة اعتقاده : عين علم = حق ( عروج ) .

 إن المعراج النبوي هو معراج تشريع : كنا قد قارنا في الملاحظة السابقة بين الإسراء والمعراج ومراتب اليقين ، وتوصلنا إلى أن المعراج هو وصول إلى حق اليقين ، ولكن
لكل حق حقيقة (1) فما حقيقة حق اليقين هنا ؟
التشريع : لقد اتخذ التشريع هنا مرتبة ( حقيقة اليقين ) من حيث أنه دليل واضح على كون المعراج النبوي معراجاً حقيقياً جسمياً لا من حضرة التمثيل . وبتلك الحقيقة ينفرد هذا المعراج النبوي عن بقية الإسراءات والمعارج النبوية نفسها ، وعن اسراءات ومعارج الأولياء .
الإسراء والمعراج الصوفي :
اتخذ الصوفية عامة من المعراج النبوي ، أنموذجاً ومثالاً ألهب هممهم ، فاندفعوا في البداية محاولين السير على القدم المحمدي مكتفين من المعراج بالفهم ، فكان جل ما وصلوا إليه من الدخول بعمق أكبر إلى حقيقة الشخصية المحمدية بما لها من أبعاد إنسانية وتجربة فكرية ، ولكن مع تقدم التجربة الصوفية كان للمتأخرين منهم اسراآت ومعارج تنوعت بتنوع رتبهم ومقاماتهم ، وإن كانت تختلف في طبيعتها ونوعيتها عن المعراج المحمدي .
وابن عربي بصورة خاصة وافق ( المعراج ) تكوينه الفكري المشبع بالشعرية ، فكان له عدة معارج خصص لها الكثير مما كتب ، فلم تعوزنا النصوص ، فيقول : « أما الأولياء فلهم اسراآت روحانية برزخية يشاهدون فيها معاني متجسدة في صور محسوسة للخيال ، يعطون العلم بما تتضمنه تلك الصور من المعاني ، ولهم الإسراء في الأرض وفي الهواء ، غير أنهم ليست لهم قدم محسوسة في السماء ، وبهذا زاد على الجماعة رسول الله بإسراء الجسم واختراق السماوات والأفلاك حساً وقطع مسافات حقيقية محسوسة ، وذلك كله لورثته معنىً لا حساً ... »(2) .
تبرز من النص السابق النقاط التالية التي تفرق بين المعراج النبوي والمعراج الصوفي :
1. إن المعراج الصوفي معراج روحاني برزخي : أي أنه من ذاك العالم الوسطي حيث تتجسد المعاني في صورة يحسها الخيال .
2. إن المعراج الصوفي معراج ( علم ) ( وتعليم ) بل هو عروج من علم إلى شهود يعطي علماً أعلى ، على حين أن المعراج النبوي إلى جانب صفته العلمية التعليمية فهو معراج تشريع .
( ربط ابن عربي في الفقرتين السابقتين العروج بالعلو المكاني ، ولكنه في هذه الفقرة سيعدل ( بالعروج ) من ارتباطه بالعلو المكاني إلى علو المكانة أي صفة العلو ، وهي للحق وتتبعه أينما كان .
فالعروج لا يفترض الارتقاء والصعود بالحس أو الخيال بل أضحى تعريفه : النظر إلى الحق ، في مقابل النزول : النظر إلى الخلق ، يقول ابن عربي : « إنما سمي النزول من الملائكة إلينا عروجاً ، والعروج إنما هو لطالب العلو ، لأن لله في كل موجود تجلياً ووجهاً خاصاً به يحفظه … ولما كان للحق سبحانه صفة العلو على الإطلاق ، سواء تجلى في السفل أو العلو ، فالعلو له . والملائكة .. إذا توجهوا من مقامهم لا يتوجهون إلا لله ، لا لغيره ، فلهم نظر إلى الحق في كل شيء ينزلون إليه ، فمن حيث نظرهم إلى ما ينزلون إليه يقال تتنزل الملائكة ، فهم في نزولهم أصحاب عروج ، فنزولهم إلى الخلق عروج إلى الحق … فكل نظر إلى الكون ممن كان فهو : نزول ، وكل نظر إلى الحق ممن كان فهو : عروج ..» .
وعن إسراءات الأولياء وحقيقتها يقول الشيخ عبد الوهاب الشعراني : « اعلم أن إسراءات الأولياء كلها روحانية برزخية ، فيشاهدون فيها معان متجسدة في صور محسوسة للخيال ، يعطون العلم بما تضمنته تلك الصور من المعاني . ولهم الإسراء في الأرض وفي الهواء على براق أعمالهم ، وليس لهم قدم محسوسة في السماء ، وبهذا زاد رسول الله على الجماعة ، فإنه زاد بإسراء الجسم واختراق السماوات والأفلاك حساً ، وقطع مسافات حقيقية محسوسة . وذلك كله لورثته معنىً لا حساً من السماوات فما فوقها . فإسراءات الأولياء معان تتجسد بخلاف الإسراء المحسوس ، فمعارجهم معارج أرواح ورؤية قلوب وصور برزخيات . ومراد الحق تعالى أن يري أولياءه من آياته الكبرى لكونهم ورثة رسله ، فهو إسراء لزيادة علم وفتح عين » .
وعن الإسراء الروحاني يقول الشيخ عبد الوهاب الشعراني : « قد صرح المحققون : بأن للأولياء الإسراء الروحاني إلى السماء بمثابة المنام يراه الإنسان ، ولكل منهم مقام معلوم لا يتعداه وذلك حين يكشف له حجاب المعرفة ، فكل مكان كشف له فيه الحجاب حصل المقصود به ، فمنهم : من يحصل له ذلك بين السماء والأرض ، ومنهم : من يحصل له ذلك في سماء الدنيا ، ومنهم : من ترقى روحه إلى سدرة المنتهى إلى الكرسي إلى العرش » .

المصدر : موسوعة الكسنزان فيما اصطلح عليه أهل التصوف والعرفان – الشيخ محمد الكسنزان الحسيني - ج13 ص101.


سهل بن عبد الله التستري واحد من أعلام العلماء، وائمة التصوف، الزاهد الورع، والعابد المتقشف، من مصابيح الأمة في القرن الثالث الهجرى، ذلك القرن الذى حفل بالأئمة الكبار فى كل فن من الفنون.
اسمه ونسبه
أبو محمد سهل بن عبد الله بن يونس بن عيسى بن عبد الله بن رفيع التُّستري. ولد بمدينة تستر في سنة 200هـ، وقيل: 201هـ. وإلى هذه المدينة ترجع نسبته (التستري) وهذه المدينة من أعظم مدن خوزستان، (وتفرد بعض الناس بجعل تستر مع الأهواز، وبعضهم يجعلها مع البصرة ... وجعلها عمر بن الخطاب من أرض البصرة لقربها منها). أما أسرته فلم تفدنا المصادر بشيء عنها، سوى ما ذكره ابن بطوطة الذي قال إنه رأى حفدة للتستري في تستر.
نشأة سهل بن عبد الله التستري وتصوفه
نشأ سهل التستري في تستر، وكانت بدايات اتجاهه إلى التصوف في سن مبكرة جدا، واحتفظ لنا اليافعي بنص مروي عن سهل التستري تحدث فيه عن نشأته واتخاذه التصوف منهجا وسبيلا لحياته.
قصة سهل التستري مع محمد بن سوار
قال سهل التستري:
"كنت ابن ثلاث سنين، وكنت أقوم بالليل أنظر إلى صلاة خالي محمد بن سوار، وكان يقوم بالليل، وكان يقول: يا سهل، اذهب ونم، فقد شغلت قلبي. وقال لي يوما خالي: ألا تذكر الله الذي خلقك؟ فقلت: كيف أذكره؟ فقال: قل بقلبك عند تقلبك في ثيابك ثلاث مرات من غير أن تحرك به لسانك: الله معي، الله ناظر إلي، الله شاهدي. فقلت ذلك ليالي ثم أعلمته، فقال: قلها في كل ليلة سبع مرات، فقلت ذلك، فوقع في قلبي حلاوة. فلما كان بعد سنة قال لي خالي: احفظ ما علمتك ودم عليه إلى أن تدخل القبر، فإنه ينفعك في الدنيا والآخرة، فلم أزل على ذلك سنين، فوجدت لها حلاوة في سري. ثم قال لي خالي يوما: يا سهل، من كان الله معه وهو ناظر إليه وشاهده لا يعصيه، إياك والمعصية.
حفظت القرآن وأنا ابن ست أو سبع، وكنت أصوم الدهر، وقوتي خبز الشعير اثنتي عشرة سنة، فوقعت لي مسألة وأنا ابن ثلاث عشرة سنة، فسألت أن يبعثوا بي إلى البصرة أسأل عنها، فجئت البصرة، وسألت علماءها، فلم يشفني ما سمعت. فخرجت إلى عبادان إلى رجل يعرف بأبي حبيب حمزة بن عبد الله العبادي، فسألته عنها فأجابني. وأقمت عنده مدة أنتفع بكلامه وأتأدب بأدبه. ثم رجعت إلى تستر، فجعلت قوتي اقتصارا على أن يشترى لي بدرهم فرقان الشعير، فيطحن ويختبز، فأفطر عند السحر كل ليلة على أوقية واحدة بغير ملح ولا إدام، وكان يكفيني ذلك الدرهم سنة. ثم عزمت على أن أطوي ثلاث ليال، ثم جعلتها خمسا، ثم سبعا، حتى بلغت خمسا وعشرين ليلة، وكنت على ذلك عشرين سنة. ثم خرجت أسيح في الأرض سنين، ثم عدت إلى تستر، وكنت أقوم الليل كله".يتضح من هذا النص أن بدايات التستري الصوفية كانت على يد خاله الذي لا تفيدنا المصادر بشيء عنه، سوى أنه لقّن التستري مبادئ التصوف، ثم تلقى التصوف على يد شيخه حمزة العبادي في عبادان.
وتفيد مصادر أخرى أنه صحب ذا النون المصري الذي كان له دور- لا نعلم مداه- في رعاية بذرة التصوف لديه، فقد ذكرت بعض المصادر أن التستري لقيه في الحج وصحبه. وثمت متصوف آخر هو إدريس بن أبي خولة الأنطاكي، أفادت المصادر أن التستري حكى عنه، ولم تضف إلى ذلك شيئا آخر.وكان لسهل التستري صلة بأهل الحديث، وارتبط بهم ارتباطًا وثيقًا، إذ كانوا موضع إعجابه، قال السلمي: "أحد أئمة القوم وعلمائهم..". وقال الذهبي: "شيخ العارفين..، الصوفي الزاهد". وقال في تاريخ الإسلام: "من أعيان الشيوخ في زمانه، يعد مع الجنيد، وله كلام نافع في التصوف والسنة". ووصف الهجويري طريقته: "وطريقه الاجتهاد، ومجاهدة النفس والرياضة". وقال: "إنه جمع بين الشريعة والحقيقة". وذكر السمعاني بأنه صاحب كرامات وآيات.

تلاميذ سهل التستري وأصحابه ورواة أخباره
هذه جملة من أصحاب سهل التستري كماو ردت في تراجمه، ومنها:
1- ابن درستويه: ورد في سير أعلام النبلاء 13/ 330: (ابن درستويه صاحب سهل قال:
قال سهل ... ).
2- أبو جعفر المصيصي المغازلي: ورد في بغية الطلب 10/ 4379: (من العباد المذكورين.
حكى عن سهل التستري) .
3- أبو الحسن البشري: ورد في تكلمة الإكمال 1/ 411: (من أصحاب سهل التستري، روى عنه كثيرا) .
4- أبو الحسن البغدادي المزين.
5- أبو الحسن النخاس: ورد في تاريخ بغداد 14/ 428: (سمع سهل بن عبد الله التستري) .
6- أبو علي البصري: ورد في تاريخ بغداد 14/ 426: (سكن بغداد، وكان من عباد الله الصالحين، وممن صحب سهل بن عبد الله التستري، حكى عنه أبو محمد الجريري) .
7- أبو محمد الجريري: ورد في طبقات الصوفية 1/ 203 وصفوة الصفوة 2/ 447- 448:
(أبو محمد الجريري: يقال: إن اسمه أحمد بن محمد بن الحسين، وكنية والده أبو الحسين. كان من كبار أصحاب الجنيد، وصحب أيضا سهل بن عبد الله التستري، وهو من علماء
مشايخ القوم.
أقعد بعد الجنيد في مجلسه لتمام حاله وصحة علمه. توفي سنة ثلاثمائة وإحدى عشرة) .
8- أبو يعقوب السوسي: ورد في كتاب من التراث الصوفي 71: (ومن أصدقاء سهل أيضا أبو يعقوب السوسي الصوفي والأستاذ العظيم الذي أشرف على أبي يعقوب إسحاق بن محمد النهرجوري المتوفى سنة 333/ 944. ومن هنا نشأت علاقة الود بين النهرجوري والتستري الذي كان يقدره حق التقدير) . وثمت خبر ورد في تفسير التستري يفيد أنهما كانا معا بأرجان، وهذا الخبر ورد أيضا في اللمع للسراج 193.
9- أحمد بن سالم: ورد في العبر 2/ 326 وشذرات الذهب 2/ 36: (أبو الحسن بن سالم الزاهد أحمد بن محمد بن سالم البصري: شيخ السالمية. وكان له أحوال ومجاهدات، وعنه أخذ الأستاذ أبو طالب صاحب القوت، وهو آخر أصحاب سهل التستري وفاة) . وانظر:الحلية 10/ 378 وسير أعلام النبلاء 16/ 272.
10- أيوب الحمال: ورد في صفوة الصفوة 2/ 293: (أيوب الحمال أبو سليمان: من ذوي الكرامات، صحب سهل بن عبد الله التستري) .
11- البربهاري: ورد في سير أعلام النبلاء 15/ 90: (البربهاري: شيخ الحنابلة، القدوة، الإمام، أبو محمد الحسن بن علي بن خلف البربهاري الفقيه. كان قوالا بالحق، لا
يخاف في الله لومة لائم. صحب سهل بن عبد الله التستري، وصنف التصانيف. توفي سنة ثلاثمائة وثمان وعشرين وعمره سبع وسبعون سنة) . وانظر: شذرات الذهب 1/ 319 وطبقات الحنابلة 299 والعبر 2/ 222.
12- بكر بن محمد ابن العلاء أبو الفضل القشيري: ورد في سير أعلام النبلاء 15/ 537: (حكى عن سهل، وصنف التصانيف، وسكن مصر. توفي بمصر سنة ثلاثمائة وأربع وأربعين، وجاوز الثمانين سنة) . وجاء في الديباج المذهب 1/ 100: (من كبار فقهاء المالكيين رواية للحديث) .
13- الحلاج: الحسين بن منصور الحلاج أبو مغيث، توفي سنة 309 هـ. جاء في سير أعلام النبلاء 14/ 314 أنه (نشأ بتستر، وصحب سهل التستري، وصحب ببغداد الجنيد) . وانظر ديوان الحلاج، المقدمة ص 7.
14- عبد الجبار بن شيراز بن يزيد العبدي النهربطي: ورد في تكملة الإكمال 3/ 465 ومعجم البلدان 5/ 319 أنه (روى عن سهل التستري) وجاء في اعتقاد أهل السنة 182- 183 أنه (صاحب سهل التستري) وروى عن التستري عدة أقوال وردت في الحلية أثناء ترجمة سهل التستري 10/ 198- 211.
15- علي بن عبد العزيز الضرير الصوفي البغدادي أبو الحسن: جاء في تاريخ بغداد 12/ 30: (من قدماء مشايخهم، صحب سهل بن عبد الله التستري) .
16- عمر بن واصل العنبري، أبو الحسن: جاء في تاريخ بغداد 11/ 221: (أظنه بصريا، سكن بغداد، وروى بها عن التستري) . قلت: ورد اسمه في تفسير التستري حوالي عشر مرات، انظر فهرس الأعلام بذيل التفسير.
17- محمد بن الحسن بن أحمد الجوري: جاء في الإكمال 3/ 10 أنه (حدث عن سهل التستري) وفي معجم البلدان 2/ 182 جور: (سمع سهل التستري قراءة) .
18- محمد بن الحسن: ورد في تاريخ بغداد 5/ 252 أنه كان (صاحب سهل بن عبد الله) ، ثم ذكر قولا للتستري وروى قولا للتستري في الحلية 10/ 211.
19- محمد بن أحمد بن سالم أبو عبد الله: ورد في طبقات الصوفية 1/ 312: (صاحب التستري وراوي كلامه. لا ينتمي إلى غيره من المشايخ، وهو من أهل الاجتهاد، وطريقته طريقة أستاذه سهل التستري، وله بالبصرة أصحاب ينتمون إليه، وإلى ابنه أبي الحسن) . وجاء في الكامل لابن الأثير 6/ 466، حوادث سنة 297 هـ: (فيها توفي أبو عبد الله محمد بن سالم صاحب التستري) .
20- المزين: أبو الحسن البغدادي علي بن محمد المزين، توفي سنة 328 هـ، ورد في سير أعلام النبلاء 15/ 232: (الأستاذ، العارف، من أورع القوم وأكملهم حالا. صحب التستري والجنيد، وجاور بمكة) .
ورد في سير أعلام النبلاء 13/ 330 عند ترجمة سهل التستري: (روى عنه الحكايات:عمر بن واصل وأبو محمد الجريري وعباس بن عصام ومحمد بن المنذر الهجيمي) .
- ورد في حلية الأولياء 10/ 198- 211 أسماء خمسة وعشرين رجلا سمعوا سهل التستري ونقلوا أقواله. وكذلك وردت بعض الأسماء في طبقات الصوفية 1/ 166- 171 وصفوة الصفوة 4/ 64- 66.

محنة سهل التستري وانتقاله إلى البصرة
ولا ندري كم من الزمن أقام سهل بن عبد الله التستري في تستر، فإنه هجرها ورحل إلى البصرة وأقام فيها حتى وفاته. وعن سبب انتقاله إلى البصرة، كما قال السّراج أنه قال: "التوبة فريضة على العبد مع كل نفس"، فسعى من سعى وهيج العامة وكفّره ونسبه إلى القبائح عند العامة حتى وثبوا عليه، وكان ذلك سبب خروجه عن تُستر وانتقاله إلى البصرة رحمه الله.

وقال ابن الجوزي: "حكى رجل عن سهل أنه يقول: إن الملائكة والجن والشياطين يحضرونه، وإنه يتكلم إليهم، فأنكر ذلك عليه العوام، حتى نسبوه إلى القبائح، فخرج إلى البصرة، فمات بها". ويبدو أن ابن الجوزي كان يتحامل على التستري، فقد أنكر عليه تفسير قوله تعالى: {وَالْجارِ ذِي الْقُرْبى وَالْجارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ} [النساء: 36] فقد فسرها التستري على أنها القلب والنفس والجوارح، (وابن الجوزي اكتفى بإنكار هذا التفسير، دون أن يذكر مبررا لإنكاره).

عقيدة سهل التستري
قال الإمام اللالكائي في أصول الاعتقاد: "قال سمعت سهل بن عبدالله يقول، وقيل له متى يعلم الرجل أنه على السنة والجماعة؟ قال: إذا عرف من نفسه عشر خصال: لا يترك الجماعة، ولا يسب أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، ولا يخرج على هذه الأمة بالسيف، ولا يكذب بالقدر، ولا يشك في الإيمان، ولا يماري في الدين، ولا يترك الصلاة على من يموت من أهل القبلة بالذنب، ولا يترك المسح على الخفين، ولا يترك الجماعة -الجمعة- خلف كل والٍ جار أو عدل"، (1/182-183 رقم 324، وورد أيضًا في كلام سهل ص94).

وفي حلية الأولياء: "أصولنا ستة أشياء: التمسك بكتاب الله تعالى، والاقتداء بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم، وأكل الحلال، وكف الأذى، واجتناب الآثام، والتوبة، وأداء الحقوق". وقال: "من كان اقتداؤه بالنبي صلى الله عليه وسلم لم يكن في قلبه اختيار لشيء من الأشياء، ولا يجول قلبه سوى ما أحب الله ورسوله صلى الله عليه وسلم" (الحلية 10/190، والزهد للبيهقي ح942، والطبقات وقال: سبعة ص210).

وقال سهل بن عبد الله التستري: "الإيمان: قول وعمل ونية [وما وافق السنة] يزيد وينقص، ويقوى ويضعف، يقوى بالعلم، ويضعف بالجهل، ذلك بعلمه، وهذا بجهله، القول: قول اللسان لا إله إلا الله محمد رسول الله، والإيمان: إيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله والبعث والنشور، والعمل بالجوارح: إقامة الصلاة، وإيتاء الزكاة، وإقامة الأحكام والنية والإخلاص لله في العمل، لقوله: "الأعمال بالنيات ولكل امرئ ما نوى"، والقوة بالعلم والنقصان بالجهل.
أصل ما يلزمنا الإيمان به في الدنيا: الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله، والإيمان بقضائه خيره وشره، وحلوه ومره، حتى تعلم أن ما أصابك لم يكن ليخطئك، وما أخطأك لم يكن ليصيبك، وأفضل الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أبو بكر ثم عمر ثم عثمان ثم علي رضي الله عنهم.
والقرآن كلام، فإن زدت فقل: غير مخلوق، والصلاة خلف كل بر وفاجر، (يعني الأئمة والسلطان) ولا تُكفِّر أحدًا من أهل القبلة بذنب, ولا تشهد لأحدٍ منهم بجنة أو نار.
وسبعة من أمور الآخرة من جحدها فهو مبتدع، فإن بينت له بالقرآن والآثار فرد وأنكر يستتاب، فإن أبى فهو كافر ولا يصلى عليه إذا مات، ولا يعاد إذا مرض ولا يزوج، وأول ذلك: عذاب القبر ونعيمه، والحشر والجمع يوم القيامة، والميزان والحساب، والحوض والشفاعة والصراط، ودخول النار والخروج منها، ودخول الجنة والزيادة، وهو: النظر إلى الله عز وجل، من طعن في هذا أو أحد منها فهو مبتدع (كلام سهل 192-193، وراجع المعارضة والرد ص82-83).

من أقوال سهل التستري
قال سهل التستري: "اعلموا إخواني أن العباد عبدوا الله على ثلاثة أوجه: على الخوف، والرجاء، والقرب ..".
وقال سهل: "لا يصح الإخلاص إلا بترك سبعة: الزندقة، والشرك، والكفر، والنفاق، والرياء، والوعيد".
وقال: "الدنيا كلها جهل إلا ما كان منه العلم، والعلم كله حجه إلا ما كان العمل به، والعمل كله هباء إلا موضع الإخلاص فيه، وأهل الإخلاص على خطر عظيم".
وقال سهل: "لا يصح التوكل إلا لمتقٍ، ولا تتم التقوى إلا لمتوكل، لقوله تعالى: (وعلى الله فتوكلوا إن كنتم مؤمنين).
مؤلفات سهل التستري
يرى بعض الدارسين أن التستري لم يقم بكتابة مؤلفاته بنفسه، ولعل مرد ذلك "حرصه على أن لا يضع بين أيدي خصومه وثائق خطية تحمل فكره، وتكون سببا في عواقب قد تسوء". وقال كمال جعفر في كتابه من التراث الصوفي: "إن المؤرخين قد نسبوا إليه عددا من المؤلفات التي تختلف كما وكيفا. وأغلب الظن أن هذه الكتب والرسائل إنما هي خلاصة انتقاها ونقلها تلامذته من بعده، وبخاصة ابن سالم".
وقام العلامة فؤاد سزكين بإحصاء مؤلفات التستري المخطوطة، مع بيان مكان وجودها، وانتهى إلى ذكر ثمانية كتب، كما قام كمال جعفر بإحصاء مماثل، انتهى فيه إلى ذكر اثني عشر كتابا، منها ستة كتب ذكرها سزكين، وثلاثة ذكرها النديم في الفهرست وكتاب ذكره حاجي خليفة في كشف الظنون. وانفرد سزكين بذكر كتابين للتستري، لم يذكرهما جعفر، وبذلك يكون مجموع عدد مؤلفات التستري هو أربع عشرة كتابا.
وهي حسب ترتيبها الهجائي:

1- تفسير القرآن العظيم.
2- جوابات أهل اليقين: ذكره النديم في الفهرست.
3- دقائق المحبين: ذكره النديم في الفهرست.
4- رسالة في الحروف: ذكر سزكين.
5- رسالة في الحكم والتصوف.
6- سلسبيل سهلية.
7- الغاية لأهل النهاية: من الكتب المفقودة.
8- لطائف القصص في قصص الأنبياء.
9- كتاب المعارضة والرد على أهل الفرق وأهل الدعاوى في الأحوال.
10- كتاب الميثاق.
11- كلام سهل.
12- مقالة في المنهيات.
13- مناقب أهل الحق ومناقب أهل الله عزّ وجلّ.
14- مواعظ العارفين.
ويرى د. كمال جعفر في كتابه "من التراث الصوفي": "إن أقوال سهل وما سجّل له من آراء قد شمل فعلا حقل التصوف برمته، وقد لمس تقريبا كل المشاكل الصوفية والكلامية التي أثارت اهتمام عصره". ويرى جعفر أن النتاج الفكري للتستري "يشهد بإلمام كامل بعلم الكلام والفلسفة كما فهمتها بعض الفرق الإسلامية ... وأنه لم يكن يجهل الفروع الأخرى من أبواب المعرفة كالطب والكيمياء".
الثناء على سهل التستري
تقدم كلام بعض أهل العلم، وما يضاف أيضًا فيما يتعلق بجانب العقيدة: فقد أثنى ابن تيمية على عقيدته حيث قال: "وكلام سهل بن عبدالله في السنة وأصول الاعتقادات أسدّ وأصوب من كلام غيره". ويقول في موضع آخر: "وكلام سهل بن عبدالله وأصحابه في السنة والصفات والقرآن أشهر من أن يُذكر هنا...". ويمدحه الإمام ابن القيم بسيد وشيخ الطائفة. وقد ذكر الهجويري ترجمة للفرقة السهلية وما تميزت به.
وفاة سهل التستري
أما وفاته فكانت بالبصرة سنة 283 هـ، وقيل سنة 273 هـ، وقيل (293 هـ)، بعد حياة مباركة، فرحمه الله.

عبدالله بن صالح البراك: اعتقاد أئمة الهدى من الصوفية: الإمام الجنيد بن محمد، وسهل التُستري أنموذجًا، جامعة الملك سعود.- محمد باسل عيون السود: مقدمة تحقيق كتاب تفسير التستري، الناشر: منشورات محمد علي بيضون / دارالكتب العلمية – بيروت، الطبعة: الأولى، 1423هـ. وانظر ترجمة سهل التستري وأخباره في المصادر الآتية:الأعلام 3/ 143 والأنساب للسمعاني 1/ 465 والبداية والنهاية 1/ 182 (حوادث سنة 283 هـ) وتاريخ الأدب لبروكلمان 4/ 13 وتاريخ التراث العربي 1: 4/ 29- 30 والتصوف في الإسلام 66- 67 وحركة التصوف الإسلامي 109- 120 وحلية الأولياء 10/ 190- 212 وحياة الحيوان 1/ 545- 547 (مادة السبع) والرسالة القشيرية 15 وسير أعلام النبلاء 13/ 330- 333 وشذرات الذهب 1/ 182- 183 وصفوة الصفوة 4/ 64- 66 وطبقات الصوفية 1/ 166- 171 وطبقات الشعراني 1/ 13 والعبر 2/ 76 (حوادث سنة 283 هـ) والعصر العباسي الثاني 163 والكامل في التاريخ 6/ 389 (حوادث سنة 283 هـ) واللباب في معرفة الأنساب 1/ 216 واللمع للسراج 394 ومرآة الجنان 2/ 249 والمعارضة والرد 1- 75 ومعجم المفسرين 1/ 218 ومعجم المؤلفين 4/ 284 وكشف المحجوب للهجويري ص525 ومن التراث الصوفي 1- 125 والمنتظم 5/ 263 والنجوم الزاهرة 3/ 95 ونفحات الأنس لجامي 73 والوافي بالوفيات 16/ 17 ووفيات الأعيان 2/ 429- 430.

قصة الاسلام


Wahabi memaknai “Istiwa” yang ada dalam surat At-thaha ayat 5 itu duduk. Sehingga mereka meyakini bahwa Allah itu duduk diatas Arsy. Padahal, “istiwa” yang ada dalam al-Quran itu banyak sekali dan tidak maknannya juga berlainan. Berbicara masalah “istiwa”, apa mana istiwa dalam ayat ini?
الرّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Kesamaan atau kedudukan
Dalam al-quran surat az-Zukhruf ayat 13 dikatakan:
لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-az-zukhruf-ayat-1-14.html#sthash.SMOgEnRA.dpuf
لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-az-zukhruf-ayat-1-14.html#sthash.SMOgEnRA.dpuf
لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-az-zukhruf-ayat-1-14.html#sthash.SMOgEnRA.dpuf
لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-az-zukhruf-ayat-1-14.html#sthash.SMOgEnRA.dpuf

لِتَسْتَوُوا عَلَىٰ ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ
supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: "Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi Kami Padahal Kami sebelumnya tidak mampu menguasainya,(az Zukhruf 13)
dalam ayat ini menceritakan bahtera dan binatang tunggangan hingga manusia dapat duduk diatasnya. Jadi “istawa’ dalam ayat ini dimaknai “duduk”.
Dalam surat HUD ayat 44 dikatakan:
وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim ."
dalam ayat ini Allah menceritakan tentang kapal nabi Nuh berlabuh “istiwa” diatas bukit judi. Kalau “istiwa” diartikan duduk sangat tidak mungin, karena kapat tidak pandai duduk. Yang bisa hanya mendarat atau berlabuh. Maka keadaan inilah yang memaling (mentakwil) kan maknanya menjadi mendarat itu.
dalam QASAS ayat 14:

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَىٰ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ


dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan ke- padanya Hikmah (kenabian) dan pengetahuan. dan Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
“Istawa” dalam ayat ini tidak diartikan duduk. Karena tidak pantas sama sekali, tetapi “istawa” dalam ayat diartikan sempurna akal, karena anak yang baru duduk belum pantas mendapatkan hikmah kenabian (belum dewasa). Jadi “Illat” inilah yang memalingkan maknanya kearti yang dimaksudkan.
Dalam ayat dibawah ini yang artinya
Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya.
Ayat ini menceritakan sifat orang mukmin itu bagaikan tunas pohon yang tegak lusus diatas pokoknya. Jadi “istawa” dalam ayat ini tidak lagi diartikan “DUDUK” tetapi tumbuh tegak. Karena tunas tidak pandai duduk. Dengan demikian arti istiwa yang ada dalam al-quran itu banyak sekali.
Dalam ayat lain dikatkan:
Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat,
“Istiwa” dalam ayat ini, artinya “sama” bukan duduk. Karena kalau diartikan duduk maka sangat kacau sekali, perhatikan ini:
Katakanlah, tidak duduk orang buta dan yang dapat melihat.
Bisakah anda menyimpulkannya?
Dalam bahasa arab ada juga penggunaan lafad “Istawa” itu berbeda makna. Diantaranya dua Sya’ir berikut ini:
Bersamaan air dan kayu.
Telah “istawa” menguasai manusia atas negeri Iraq tampa darah yang tertumpah.
DALAM BAQARAH 29:
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit
“Istiwa” dalam ayat ini atrinya berkehendak, Bukan duduk karena tidak pantas diartikan duduk.
Ini menunjukan bahwa makna “Istiwa itu banyak sekali. Inilah yang dikatakan Imam Malik bahwa:
Perkataan “Istiwa” sudah diketahui oleh semua orang artinya (maksudnya banyak sekali). Tetapi caranya tidak di ketahui, bertanya tentang ini adalah bidah.
Maka dengan demikian, tentu arti “Istiwa” dalam ayat inipun tidak pantas diartikan duduk atau bertempat. Karena Allah maha kaya dari semesta alam ini, yakni Allah tidak berhajat kepada alam yang diciptakannya. Kalau dikatakan duduk diarasy, maka akan terjadi persamaan dengan makhluknya.
Jadi maksud dari “istawa” yang ada dalam ayat dibawah ini, tentu tidak tepat jika diartikan sebagai tempat, melainkan menguasai.
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy (Al A’raf 54)
Kalau diyakini tuhan itu bersemayam diatas arasy, yakni bertempat di atas arasy, berarti tuhan bukan hanya bertempat tapi tuhan juga ber-jehat dan berwilayah. Sedangkan semua itu adalah ciri-ciri makhluk.
Kitab-kita yang mengatakan makna “Istiwa” bukan duduk itu banyak sekali. Diantaranya:
1.    Kitab tafsir Jalalen jid 3 hlm 82. Artinya: Memerintah atau Menguasai.
2.    Kitab Tafsir Farid wajdi hlm 412: artinya: Memerintah atau Menguasai.
3.    Kitab tafsir Ruhur bayan jld 7 hlm 363. Artinya: menguasai atu memerintah.
Ulama Khlaf menafsirkan “istawa” dengan “Istaula”. Ini jauh lebih baik dijadikan I’tiqad. Sebab tidak bertentangan dengan surat Syura: 11
tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.
Maka dengan demikian jadilah makna ayat itu begini:
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia menguasai arasy, bukan bertempat di atas arasy. Wallahu A’lam.


Monday, May 2, 2016

Apakah benar pedapat
wahabi tentang tuhan itu di Arasy ?

Kekafiran wahabi adalah, mereka telah menetapkan Allah itu berada di atas ‘Arasy.  Sedangkan Ahlussunnah Waljamaah meng-i’tiqadkan bahwa Allah itu tidak bertempat.  Alasan wahabi itu adalah: Thahaa ayat 5:
الرّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
 Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy.
Dengan demikian mereka mengkafirkan orang yang tidak mempercayai Tuhan itu di atas ‘Arasy. Maka terjadilah dialogh antara Sunni (AhLussunnah Waljamaah) dengan wahabi. Kami buat namanya Ayah dan Budi. Ayah bertnya kepada budi.
Ayah    Menurutmu Allah itu dimana?
Budi    di arasy.
Ayah    Apa alasanmu mengatakan itu?
Budi    Ayat Alquran Surat “thaha” ayat 5 dan Al-A’raf 54:
الرّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
 Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy.
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy.
Ayah    Apa makna “Istawa” dalam ayat itu?
Budi    Maknanya “bersemayam atau duduk”
Ayah    Andaikan kami tidak meyakini Allah diatas Arasy bagaimana?
Budi    Kafiiiiir.
Ayah    kenapa kamu kafirkan kami yang tidak mempercayai itu?
Budi    karena menolak Ayat Allah.
Ayah    Berarti kita wajib mengikuti Ayat Allah itu?
Budi    Ya, Wajib. Kalau tidak kita dilaknat.
Ayah    Kalau demikian, kami mengatakan Allah itu di langit, berdasarkan surat al-Mulk ayat 16. Dan baqarah 29: Apakah kamu masih mengkafirkan kami. begini bunyi Ayatnya:
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit.
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia istawa ke langit,
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah itu bukan di ‘Arasy tetapi dilangit.  Bahkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim Rasulullah bertanya kepada seorang budak perempuan yang berkulit hitam, pertanyannya adalah:
َيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ
 Dimana Allah? jawab wanita itu, di Langit. Lalu beliau bertanya lagi, Aku siapa? Engkau Rasulullah, jawab wanita itu. lalu beliau bersabda: mardekakan dia karena dia adalah wanita yang mukminah.
Budi    Pak! Yang saya katakan itu quran, surat Thaha ayat 5. Bapak bisa periksa di dalam Quran itu. Allah diatas ‘Arasy. Bapak jangan main main.
Ayah    Budi! Yang saya tunjukkan ini juga Ayat, bukan buah labu. Maka kamu juga jangan main-main. Bukankah kami mengatakan tuhan dilangit itu berdasrkan ayat juga, kenapa masih kamu salahkan? Kamu percayakan bahwa ini ayat Allah?
Budi    Ya, saya percaya. Tapi bapak juga harus percaya bahwa yang saya sampaikan itu ayat Allah juga.
Ayah    Kalau begitu kita harus mempercayai dua ayat itu, setuju?
Budi    Ya, saya setuju.
Ayah    berdasarkan dua ayat itu tentu tempat tuhan ada dua. Yaitu: di Arasy dan dilangit. Kamu maukan menerima jawaban itu?
Budi    Saya sekarang jadi pusing.
Ayah    kalau kamu pusing, kamu berobat saja, jangan berfatwa. Nah sekarang saya tunjukkan lagi ayat yang lain. Perhatikan ini, kamu masih waraskan? Perhatikan:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Dia bersama kamu di mama saja kamu berada.(al aHadit ayat 4)
Dalam ayat ini dikatakan: Allah bersama kamu dimanapun kamu berada. Dengan mengetahui keberadaan kita di bumi, berarti Allah juga di bumi. Kita tidak boleh menolaknya. Perhatikan lagi:
مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (al Mujadilah ayat 7)
Ayat ini menunjukan bahwa Allah bersama manuisa di bumi bukan dilangit.  Perhatikan lagi:
قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ
dan Ibrahim berkata:"Sesungguhnya aku pergi kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku (As-Shafat99)
dalam ayat ini Ibrahim pergi kepada tuhannya padahal ia pergi ke falestin, ini menunjukan tuhan di falestin bukan di Arasy. Dan ini juga ayat. Mengapa kalian menetapkan surat thahaa saja untuk dijadikan pedoman tauhid sedangkan yang saya bacakan ini ayat juga?
Ketika Nabi bersama Abu bakar di dalam gua tsur, abu bakar menangis. Rasul berkata: “jangalah takut dan jangan gundah Allah bersama kita” berdasarkan hadits ini Allah di Gua Tsur bukan di Arasy. Bahkan dalam al-Quran dikatakan :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-qaaf-ayat-16-35.html#sthash.CRs8KfBU.dpuf

Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (Qaaf-16).

Berdasarkan Ayat ini Allah dekat dengan manusia, bukan di langit. Kalaulah demikian cara memahami Ayat. Maka akan kita temukan 30 tempat tuhan. Dan ada satu yang harus kita ketahui, tidak ada satu ayatpun yang mengijinkan kita mengatakan tuhan itu diatas. Carilah dalam ayat yang lain pasti tidak ada. Yang ada hanyalah dalam surat Baqarah ayat 186:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Kalau kita mengikuti Ayat, tentu kita harus mendahulukan ayat ini, karena dari sekian banyak ayat ayat yang menyatakan tentang tuhan, hanya ayat inilah yang mengijinkan kita untuk mengatakan bahwa Allah itu dekat. Kesimpulannya adalah: jika kita ditanya orang tentang Allah jawabannya bukan di Arasy, tetapi allah itu dekat. Itulah sebabnya Ahlussunnah waljamaah meng i’tiqatkan bahwa Allah itu tidak bertempat. Sebab Allah tidak serupa dengan makhluqnya. Dan ini lah yang dikatakan dalam quran bahwa Allah tidak serupa dengan makhluknya. Kalau dikatakan Allah dilangit berdasarkan ayat yang satu, tentu boleh juga dikatakan Allah di bumi berdasrkan ayat yang lain. Wallahu A’lam.

Powered by Blogger.

Thank's To Follow

Total Pageviews

Popular Posts